Jumat, 30 Oktober 2020

Bidadari dari Randublatung (Bagian 2-Tamat)

Dita mengetuk pintu rumah Ummi Dahlia. Setelah beruluk salam, dia disilakan duduk di ruang tamu. Di sebuah sofa empuk berwarna coklat, Ummi Dahlia duduk di samping Dita.

“Bersyukurlah kepada Allah, Dita. Ada kabar baik hari ini.”

“Kabar apa, Ummi?” Mata Dita berbinar.

“Ah, kau seperti anak yang dijanjikan mainan saja. Sabar sedikit lah...”

Dita tertawa tapi juga malu. “He he, iya, Ummi. Maaf.”

Bidadari dari Randublatung (Bagian 1)

 Matahari menyorot dengan tajam ke segala penjuru bumi. Langit biru berhias awan putih kehitaman. Udara panas dan lembab membuat badan makin terasa lengket. Beruntung, rumah orang tua Adhi bergenteng tanah dan plafonnya terbuat dari kayu jati. Paling tidak, konstruksi itu membuat suhu ruangan lebih terkendali.

Di rumah itu Dita datang bertamu. Mbok Giyem menyajikan minuman teh manis hangat untuk tuan rumah dan tamunya. Setelah itu, ia kembali ke dapur melanjutkan tugasnya memasak.

Kamis, 22 Oktober 2020

Merad Sing Adoh

Rikalane langit padang jinggrang

Lan mripat mung kena ayang-ayang

Srengenge anget kaya lagi disayang-sayang

Bungah epor ora ketulungan

Rabu, 21 Oktober 2020

Wanginya Kamar Bu Melati (Bagian 4--Terakhir)

Intan segera bangkit dari duduk, lalu mengangkat tangan dan bertakbir. Ia berdiri di tempat jamaah perempuan di pintu nomor 99. Shalatnya sangat khusyuk. Terbayang dalam ingatannya akan wajah Bu Melati. Air matanya meleleh. Pada takbir yang ketiga ia berdoa:

Ya Allah. Ampunilah dia, rahmatilah dia, bebaskan dan maafkan dia. Muliakanlah tempatnya, luaskanlah kuburnya. Mandikanlah ia dengan air, salju, dan es. Bersihkan dia dari segala kesalahan sebagaimana Engkau membersihkan baju yang putih dari kotoran.  

Wanginya Kamar Bu Melati (Bagian 3)

 

24 Dzulhijah 1440 H. Sekitar jam 8 pagi. Dokter kloter memberitakan kepada ketua rombongan bahwa Bu Melati telah wafat. Pesan berantai dan saling balas terjadi dari satu gawai ke gawai yang lain. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Semua anggota rombongan diliputi duka.

Hanya dalam tempo satu hari Bu Melati berjuang mempertahankan hidup. Tapi, kelemahan yang ada padanya tidak bisa disembunyikan. Allah menakdirkan usianya berakhir hari ini. Setelah semua rangkaian ibadah haji dilaksanakan.

Wanginya Kamar Bu Melati (Bagian 2)

 

Masjidil Haram penuh sesak oleh jamaah yang melaksanakan thawaf ifadhah. Sebagian malah sudah sampai pada thawaf wada’ atau thawaf perpisahan. Mereka hendak kembali ke kampung halaman. Hampir semua sisi ditempati jamaah sehingga siapa yang ingin melaksanakan thawaf harus rela berdesak-desakan.

Karom terus memimpin rombongan agar bisa melaksanakan thawaf tanpa terpisah satu jamaah pun. Tapi itu bukan perkara mudah. Banyak jamaah terutama dari India dan Pakistan yang suka menggunakan kain panjang sebagai pengait. Tujuannya agar mereka tidak terpisah satu sama lain. Namun, cara itu justru mengganggu jamaah lain.

Wanginya Kamar Bu Melati (Bagian 1)

 

12 Dzulhijah 1440 H. Kota Mekah kembali ramai oleh para jamaah haji. Bagi jamaah yang mengambil nafar awal, prosesi puncak haji telah berakhir. Kegiatan wuquf di Arafah, bermalam di Muzdalifah, dan menginap di Mina atau biasa disingkat dengan Armina atau Armuzna, telah usai.

Dalam beberapa hari ke depan, mereka tinggal menyelesaikan babak akhir dari kegiatan haji: thawaf ifadhah, sa’i, dan tahalul. Itu berarti sebentar lagi jamaah bisa kembali ke tanah air masing-masing.

Minggu, 18 Oktober 2020

Dosa Berujung Iba

Ableh menatap tajam sebuah lemari pakaian. Tubuhnya baru saja direbahkan setelah hampir dua jam duduk dan mengobrol dengan Heri, si pemilik rumah. Lebih tepat rumah kontrakan, karena Heri hanya mengontrak di tempat tersebut.

Heri sebetulnya tidak terlalu mengenal sosok Ableh. Perkenalan yang sekejap malam itu membuat yakin hati Heri bahwa Ableh adalah orang baik. Sebagaimana pengakuan Ableh, dia adalah keponakan Haji Abbas, seorang ulama muda lulusan Pondok Pesantren Lirboyo.