Dita mengetuk pintu rumah Ummi Dahlia. Setelah beruluk salam, dia disilakan duduk di ruang tamu. Di sebuah sofa empuk berwarna coklat, Ummi Dahlia duduk di samping Dita.
“Bersyukurlah kepada Allah, Dita. Ada kabar baik hari ini.”
“Kabar apa, Ummi?” Mata Dita berbinar.
“Ah, kau seperti anak yang dijanjikan mainan saja. Sabar sedikit lah...”
Dita tertawa tapi juga malu. “He he, iya, Ummi. Maaf.”