Sabtu, 08 Juli 2023

Luka Plumpang Masih Menganga

 

Terminal 1 Bandara Soekarno-Hatta malam itu sangat ramai. Penumpang yang baru turun dari pesawat bergegas menuju pintu keluar beradu dengan para penjemput tamu dan kru taksi atau travel. Sebagian menuju mesin antrean untuk mendapatkan taksi. Dari menit ke menit jumlah pengantre makin menumpuk.

Lima belas menit aku duduk di kursi tunggu. Akhirnya, sebuah taksi warna biru datang. Petugas menyebutkan nomor antrean. Tepat giliranku.

 

“Tumben agak lama, Mas?” tanyaku pada pengemudi taksi yang akhirnya membawaku pergi dari terminal kedatangan. Membuka basa-basi setelah aku utarakan tujuanku. Aku duduk di kursi tengah, di belakang sopir. Suara pengajian terdengar dari siaran radio yang dinyalakan sopir.

Dengan nada agak tinggi, pengemudi itu menjawab, “Capek, Pak! Kalau bukan karena diperintah sama pusat, saya nggak bakalan ke sini, Pak. Jauh kalau harus ke bandara. Dua jam tadi saya dari tengah kota ke sini. Macet lagi jalannya.”

Waduh, sepertinya sopir ini sedang kesal hati. Entah apa penyebabnya. Aku coba mengalihkan perhatian dengan pertanyaan lain, “Pool-nya di mana, Mas?”

“Kalau pool sih di Cengkareng, Pak. Tapi, tadi saya baru selesai mengantar tamu ke tengah kota,” jawabnya. Aku melirik kaca spion. Wajah si sopir terlihat seperti orang kelelahan.

“Masnya tinggal di mana?” tanyaku lagi.

“Di Plumpang, Pak. Yang kemarin kebakaran. Tahu kan, Pak?” jawab si sopir sembari melempar pertanyaan kepadaku.

Tiba-tiba ingatanku tertuju pada berita kebakaran hebat yang menimpa Depo Pertamina di Plumpang, Koja, Jakarta Utara beberapa bulan yang lalu. Jangan-jangan sopir ini atau keluarganya menjadi salah satu korbannya.

“Keluarga Mas jadi korban kebakaran itu?” tanyaku penasaran.

“Iya, Pak. Bapak mertua saya kena pecah pembuluh darah di kepala!” suara si sopir dengan sedikit tertahan.

Ya Allah. Bukankah itu stroke? Kasihan. Jangan-jangan mertua sopirku ini bukan saja mengalami pecah pembuluh darah. Seperti penderita stroke pada umumnya, sakitnya bisa menjalar ke organ lain.

“Apakah karena terjatuh? Atau ada sebab lain, Mas?” tanyaku lagi.

“Ya gara-gara kebakaran itu, Pak. Mertua saya, semacam … e … kaget gitu, Pak.”

Shock?!”

“Ya, shock, Pak. Dia shock melihat kebakaran hebat malam itu. Karena tidak kuat, bapak mertua saya sampai pingsan. Ternyata pembuluh darahnya pecah. Saya benar-benar kalut malam itu, Pak!” si sopir mulai mau bercerita panjang-lebar. Aku menarik nafas lega. Intonasinya mulai merendah.

“Memangnya berapa jarak kebakaran dengan rumah mertua Mas?”

“Ya, sekitaran mobil ini dengan mobil itu, Pak,” jawab sopir. Telunjuknya mengarah ke kendaraan pribadi di depannya. Aku hitung, sekitar sepuluh meter.

“Hah? Sedekat itu, Mas?” aku setengah tak percaya.

“Iya, Pak. Dekat sekali,” jawabnya.

Pantas saja efek kebakarannya dahsyat. Jangankan terkena jilatan api. Dekat dengan hawa panas akibat kebakaran BBM saja sudah luar biasa menyakitkan. Kok bisa hunian masyarakat bisa sedekat itu dengan depo BBM. Ini salah siapa? Entahlah.

“Maaf, Bapak punya e-toll?” sopir bertanya ramah. Sepertinya ia enggan melanjutkan pembicaraan soal kebakaran di Plumpang.

“Ada, Mas,” jawabku, “tapi sebentar saya top-up dulu saldonya.”

“Baik, Pak,” kata sopir.

Aku mengambil dompet. Kartu e-toll aku keluarkan. Kuletakkan di belakang gawaiku. Dua menit kemudian, saldo uang bertambah. Cukup untuk masuk dan keluar di jalan tol.

Selama beberapa menit percakapan berhenti. Suara pengajian dari siaran radio sudah berubah menjadi bacaan murottal Al-Qur’an. Setelah melewati gerbang tol, mobil melaju lebih kencang.

“Berarti Mas malam itu ada di lokasi kejadian?” tanyaku.

“Iya, Pak. Sewaktu saya mendengar ada kebakaran, saya segera meluncur ke rumah kontrakan. Di rumah itu ada bapak mertua, istri, dan dua anak saya. Istri dan anak saya alhamdulillah bisa keluar rumah. Meskipun terkena luka bakar. Namun, bapak mertua saya terjebak di dalam. Saya bingung. Asap memenuhi ruangan di dalam rumah.”

Dramatis sekali. Meski tak mengalami langsung, cerita si sopir menggugah angan-anganku. Seolah-olah aku berada di dalam situasi itu.

Aku membuka gawai. Kubuka mesin pencarian. Ada berita soal sejarah Depo Pertamina Plumpang.

Depo Pertamina atau disebut juga dengan Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) Plumpang mempunyai kisah yang panjang sejak didiriikan hingga terjadi musibah kebakaran. Konon, lokasi itu dulu dibeli oleh Pertamina dari sebuah perusahaan bernama PT Mastraco pada 1971. Luas lahannya mencapai 153 hektar.

Pertamina resmi beroperasi di kawasan itu sejak 1974. Pada 1976, hak untuk pembangunan instalasi minyak ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri.

Kawasan itu dulu belum ditempati penduduk. Namun, kini di sekitar depo sudah ada lebih dari 34 ribu penduduk dengan 9.200 lebih kepala keluarga. Sehingga lokasi yang benar-benar digunakan sebagai fasilitas TBBM hanya tersisa 72 hektar saja.

Perubahan besar-besaran lokasi sekitar depo menjadi hunian terjadi pada akhir 1980-an. Banyak lahan yang semula berupa pohon karet dan rawa-rawa berubah jadi pemukiman. Kala itu, tak pernah ada isu soal pemukiman ilegal di sana. Barulah belakangan muncul pandangan soal kelayakan Pertamina mendirikan depo di sana.

Menurut pihak Pertamina, ini aneh. Mereka yang lebih dulu ada di tempat tersebut, baru kemudian diikuti oleh warga yang membangun hunian di sekitar depo. Kendati demikian, keberadaan depo malah justru dipertanyakan.

Berita yang kubaca berikutnya berkisah soal pemberian Kartu Tanda Penduduk (KTP) bagi penduduk yang sudah lama menghuni di sekitar depo diberikan. Juga soal penerbitan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) bagi warga yang sudah tercatat kependudukannya berdasarkan KTP yang terbit sebelumnya. Pada titik tersebut, warga merasa sudah mendapatkan legalitas untuk berada di lokasi tersebut.

Si sopir melanjutkan ceritanya, “Saya dalam pilihan berat waktu itu. Tetangga saya sekeluarga terjebak di dalam rumah kontrakan. Mereka ada empat orang. Sementara di rumah kontrakan saya sendiri ada bapak mertua yang belum berhasil keluar.”

Lampu besar kendaraan di belakang mengarahkan sorotannya ke arah kami. Sopir taksi menggeser mobilnya ke jalur sebelah kiri, menyilakan mobil di belakangnya untuk menyalip.

“Asap hitam di mana-mana,” si sopir meneruskan kisah pilunya. “Kalau saya menyelamatkan bapak mertua, tetangga saya kemungkinan mati semua. Sebaliknya, kalau saya menyelamatkan tetangga saya, mustahil bapak mertua saya bisa selamat.”

Di malam nahas itu, kata si sopir, suasana benar-benar mengerikan. Hawa panas menyengat, asap menyesakkan dada, dan bangunan hancur di mana-mana. Penduduk di sekitar depo berada di antara hidup dan mati. Mereka berjibaku menyelamatkan diri. Ambulans lalu-lalang tak terhitung jumlahnya. Sementara korban yang memerlukan bantuan makin bertambah.

“Mas pilih yang mana?” tanyaku.

“Akhirnya, saya pilih menyelamatkan mertua saya, Pak!” jawab si sopir.

“Lalu, tetangga Mas bagaimana?”

“Semua meninggal dunia,” suara sopir terdengar bergetar.

“Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un,” gumamku.

Cukup. Aku tak ingin mendengarkan cerita yang lebih mengerikan. Segera kupotong pembicaraan si sopir, “Sekarang bapak mertua dirawat di mana?”

“Rumah Sakit PON Cawang, Pak,” jawabnya. Lewat kaca spion kulihat raut muka kesedihan memancar dari wajah sopir taksi itu.

“Lalu, anak dan istri Mas bagaimana?” tanyaku.

“Anak saya dirawat di Rumah Sakit Koja. Tiap hari saya harus bolak-balik menunggu bapak mertua dan anak saya. Bergantian dengan istri saya. Meskipun dia juga terkena luka bakar, kondisinya tidak separah anak saya. Alhamdulillah sekarang anak saya juga sudah membaik. Dia mulai bisa berkata-kata bahkan bercanda dengan kakaknya.”

“Alhamdulillah,” aku berkata lirih.

“Tapi,” si sopir kembali meneruskan ceritanya,” bapak mertua saya masih sering ketakutan. Bahkan, melihat nyala kompor saja sudah teriak-teriak. Dikira ada kebakaran.”

“Astaghfirullah. Berarti dia sampai trauma, Mas!” aku menyela.

“Iya, Pak,” jawabnya.

Taksi sudah menyilang di atas ruas menuju tol Jakarta-Tangerang. Si sopir menambah kecepatan. Menyalip Avanza warna hitam.

Cerita selanjutnya adalah soal kompensasi dan santunan baik dari pihak Pertamina maupun pemerintah. Menurut si sopir, sempat terjadi beda pendapat antara warga korban kebakaran dan pihak Pertamina menyangkut besaran santunan. Namun, akhirnya pihak Pertamina memberikan uang sebesar Rp50 juta untuk keluarga korban yang meninggal dunia.

Korban luka-luka mendapatkan bantuan dan biaya perawatan. Warga juga diberikan pengganti uang kontrakan. Mereka disilakan mencari kontrakan di mana saja. Harga kontrakan diganti seluruhnya oleh pihak Pertamina.

Aku menarik nafas panjang. Kurasa berat sekali ujian si sopir taksi ini.

Musibah adalah musibah. Mungkin soal legalitas penduduk berada di sekitar Depo Pertamina Plumpang masih bisa dipertanyakan. Namun, penderitaan warga tak mungkin diabaikan. Semua pihak perlu mencari solusi terbaik.

Aku jadi teringat kejadian yang dulu menimpa kedua orang tuaku ketika menempati tanah ilegal di Kampung Rawa daerah Kemanggisan, Jakarta Barat. Sudah beberapa kali warga diingatkan untuk meninggalkan lokasi tersebut. Namun, warga yang kebanyakan orang kecil yang berprofesi sebagai pemulung, asongan, dan pedagang kaki lima itu menolak dengan alasan sudah membayar. Entah kepada siapa.

Akhirnya, pada Kamis, 13 Februari 1992 pagi, peristiwa yang tak diharapkan terjadi. Pemerintah kota dengan personel dan perlengkapannya melakukan penggusuran hunian penduduk. Rumah semipermanen dihancurkan dengan alat berat. Penduduk beradu fisik dengan aparat. Karena tak kuasa melawan, sebagian terpaksa menyingkir dan mencari hunian baru. Orang tuaku pindah kontrakan ke Pasar Minggu.

Taksi berhenti di depan pagar rumahku. Aku menyerahkan tiga lembar uang sebagai pembayaran.

“Maaf, kembaliannya, Pak. Sebentar,” kata si sopir.

“Tidak usah, Mas. Ambil saja. Buat tambahan anak atau istri Mas,” jawabku.

Sebelum melangkah keluar, aku melihat layar kecil di dekat kemudi. Terpampang jelas nama pengemudi: Agung Nugraha.

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar