Kamis, 27 Juli 2023

Hadiah Ulang Tahun Ferdi

Hari menjelang siang. Cuaca di luar mulai terasa panas. Namun, tidak demikian dengan Masjid Darussalam. Masjid yang oleh civitas academica dinobatkan sebagai masjid kampus itu terasa sejuk karena pendingin udara ada di setiap sudut. Berdiri dengan hembusan angin yang semilir.

Di masjid itu ratusan mahasiswa memenuhi ruang utama. Hari itu ada pembekalan kepemimpinan untuk calon pengurus senat mahasiswa. Mereka adalah orang-orang yang dipilih oleh mahasiswa untuk menjaga kelangsungan kegiatan kampus selama satu tahun ke depan. Mahasiswa putra duduk di sisi kanan, sedangkan yang putri di sisi kiri. Di antara keduanya ada pembatas setinggi kira-kira satu meter.

Sebuah meja panjang dan tiga buah kursi menempati sisi depan ruang utama masjid. Di atasnya ada vas bunga dengan aneka bunga warna-warni. Dua buah mikrofon diletakkan di atasnya. Satu untuk moderator, satu untuk pembicara. Sementara satu mikrofon lagi dipasang dalam posisi berdiri di tengah audiens yang ingin mengajukan pertanyaan.

Hari itu Kyai Ali Ahmad Saifuddin didaulat untuk menjadi pembicara utama. Beliau adalah pengasuh Pondok Pesantren Darul Falah. Gaya bicaranya lembut, tapi intonasi kalimatnya tegas. Tema yang dibicarakan adalah soal peran manusia sebagai khalifah di muka bumi.

Kyai Ali berpesan agar manusia menjaga lima hal sebagaimana tujuan diturunkannya syariat yaitu menjaga agama (hifzhud-diin), jiwa (hifzhun-nafs), akal (hifzhul ‘aql), keturunan (hifzhun-nasl), dan harta (hifzhul maal). Kelima hal itulah yang harus diperhatikan ketika seseorang menjadi pemimpin.

Kyai Ali juga menyampaikan soal peran orang tua terutama ayah sebagai role model dalam kepemimpinan. Itulah mengapa, menurut sang kyai, peran ayah pada diri Rasulullah SAW selalu ada meskipun ayah kandungnya telah wafat. Peran itu dijalankan oleh kakek dan dilanjutkan oleh paman beliau. Merekalah yang menjaga dan melindungi Rasulullah SAW dari semua gangguan orang-orang di sekitarnya.

“Mahasiswa harus belajar dan menggali kepemimpinan dari figur seorang ayah,” pungkas Kyai Ali.

Acara memasuki sesi tanya-jawab. Seorang mahasiswa bernama Ferdi mengajukan pertanyaan. Ia berdiri dan maju ke arah mikrofon. Karena postur tubuhnya pendek, posisi mikrofon sedikit diturunkan. Sebelum bertanya, ia lebih dulu memberi pengantar.

“Mohon maaf, Pak Kyai. Orang tua saya masih awam dalam masalah agama. Nah …,” pertanyaan Ferdi belum tuntas. Namun, cepat-cepat dipotong oleh Kyai Ali.

“Bagaimana? Bisa diulangi pertanyaannya?” tanya Kyai Ali sambil mengangkat sedikit peci hitamnya. Ia memperbaiki lipatan sarung dan posisi duduknya.

Ferdi mengulangi pertanyaannya, “Begini, orang tua saya masih awam …”

“Apa? Tolong ulangi lagi!” seru Kyai Ali dengan nada meninggi.

“Orang tua saya masih awam …” Ferdi mengulangi pertanyaannya dari pengantar. Ia mulai gusar. Hatinya bertanya: adakah yang salah dengan kata-katanya?

“Hah? Anda bicara seperti itu? Itu bukan pertanyaan, tapi penghinaan!” kata Kyai Ali lebih tegas dari kata-kata sebelumnya.

Panitia dan peserta pembekalan terkejut mendengar kalimat dari pembicara. Suasana berubah menjadi tegang. Si penanya bingung mesti berkata apa. Belum juga pertanyaannya disampaikan, Kyai Ali buru-buru memotong dan bahkan menganggapnya sebagai penghinaan.

“Maaf, Kyai. Maksudnya bagaimana?” tanya Ferdi.

Kyai Ali mengajukan pertanyaan kepada Ferdi, “Tadi Anda bicara apa?”

“Orang tua saya masih awam agama, Kyai,” jawab Ferdi tegas. Ia hendak melanjutkan kata-katanya hingga ke pertanyaan pokok. Namun, Kyai Ali memberikan isyarat melalui tangannya supaya Ferdi berhenti berkata-kata.

“Stop! Jangan lanjutkan,” tukas Kyai Ali, “Anda sudah menghina dan merendahkan orang tua Anda sendiri!”

Kyai Ali mengarahkan telunjuk kanannya kepada Ferdi lalu ke arah lantai tempat para mahasiswa mendengarkan nasihatnya. Perintah Kyai Ali, “Duduk!”

Ferdi balik kanan meninggalkan mikrofon yang masih menyala. Hatinya masygul mendengar hardikan dari Kyai Ali. Ia kembali ke posisinya semula. Duduk sembari tertunduk. Teman-temannya sesama mahasiswa memandang Ferdi dengan iba.

Dari meja pembicara, Kyai Ali Saifuddin berbicara, “Saya tidak akan mendengarkan pertanyaan selanjutnya seperti apa. Saya ingin menyampaikan nasihat kepada kita semua tentang bagaimana sikap kita terhadap orang tua dan bagaimana memperlakukan mereka.”

Kyai Ali menghentikan kalimatnya untuk sementara waktu. Tangan kanannya meraih gelas berisi minuman. Setelah mengucap basmalah dan meminum tiga tegukan, ia mengusap bibirnya dengan kain serban merah yang melingkar di lehernya.

“Saudaraku sekalian,” lanjut Kyai Ali, “orang tua kita semuanya yang oleh penanya tadi dikatakan ‘awam’ adalah orang yang mengorbankan lebih dari separuh kehidupannya untuk kita sebagai anak-anaknya. Boleh jadi mereka tak mengenyam pendidikan yang tinggi. Jagankan tinggi. Cukup pun mungkin belum. Orang tua kita peras keringat banting tulang demi bisa menyekolahkan kita.”

Semua mahasiswa terdiam. Khusyuk mendengar nasihat Kyai Ali. Raut muka mereka terlihat serius menatap sang pembicara. Namun, tidak demikian dengan Ferdi. Baginya, kata-kata Kyai Ali sangat menusuk hatinya.

“Mungkin di antara kita ada yang sampai sarjana, S2, S3. Siapa yang berjuang dan mendoakan kita? Jawabannya: orang tua. Susah payah orang tua mungkin menyebabkan mereka kita tidak sempat untuk belajar seperti kita sekarang. Untuk siapa? Ya untuk kita semua. Anak-anaknya. Bisa jadi ilmu Anda lebih hebat daripada orang tua. Namun, itu semuanya tidak lepas dari doa dan kerja keras orang tua kita. Jika orang tua kita kurang dalam masalah pemahaman agama, jangan hakimi mereka. Ajari mereka dengan cara yang baik. Jangan rendahkan mereka apalagi di depan khalayak,” kata Kyai Ali tegas.

Ferdi menitikkan air mata. Mukanya memerah. Dadanya naik turun. Seorang mahasiswa di sisi kanannya mengusap-usap punggung Ferdi. Isyarat supaya Ferdi bersabar dengan nasihat Kyai Ali. Ferdi insyaf dengan kekeliruannya ketika membuka pertanyaan tadi. Ia sudah bisa menangkap pesan sang kyai yang baginya terasa sangat dalam.

“Saudara-saudara tentu paham,” lanjut Kyai Ali, “kita semua dilahirkan dari rahim ibu kita. Dari perut ibu kita. Susah payah ibu kita membawa kita ke mana. Mungkin sambil bekerja mencari kayu bakar, membuat adonan kue, berdagang kaki lima. Lalu ayah kita kerja keras mencari nafkah demi istri dan anak-anaknya.”

“Allah yang telah mengeluarkan kalian dari perut ibu kalian. Baca Al-Qur’an surat An Nakhl ayat 78. Ketika kita lahir, tidak ada sedikit pun ilmu yang kita punya. Kita tidak tahu apa-apa. Allah anugerahi kita dengan nikmat berupa pendengaran, penglihatan, dan hati. Untuk apa? Supaya kita bersyukur kepada Allah dan kedua orang tua. Bukan sombong dan merendahkan.”

Kyai Ali mengarahkan pandangannya kepada Ferdi. Di saat yang sama, mata Ferdi menatap sang kyai. Pandangannya penuh hormat. Kyai Ali paham bahwa Ferdi menyesal dengan apa yang tadi disampaikan di depan semua peserta.

“Wahai pemuda,” Kyai Ali berkata dengan lembut, “selepas pengajian ini, segeralah pulang. Temui kedua orang tua. Ucapkan terima kasih kepada mereka yang telah membesarkan kita, anak-anaknya. Terima kasih bahwa mereka telah bersusah payah supaya kehidupan anak-anaknya lebih baik lagi. Minta maaflah jika pernah menyakiti mereka baik dengan sikap maupun kata-kata.”

Ferdi menganggukkan kepala. Matanya masih sembab. Ia tak sanggup lagi tersenyum. Ada penyesalan yang amat dalam atas kata-katanya di hadapan Kyai Ali tadi.

Kyai Ali bertanya kepada Ferdi, “Baik kalau begitu. Ada yang mau ditanyakan?”

“Tidak ada, Kyai,” jawab Ferdi sembari menangkupkan telapak tangannya di depan dada, “mohon maaf atas kelancangan saya.”

Kyai Ali tersenyum. “Baik. Saya maafkan. Semoga Allah lapangkan jalanmu menuju kebaikan. Allah merahmati kehidupanmu.”

“Aamiin,” seru peserta berkali-kali. Ruang utama masjid bergemuruh. Ada yang mengumandangkan takbir.

“Berapa usia Anda?” tanya Kyai Ali kepada Ferdi.

“Dua puluh tahun, Kyai. Insya Allah besok hari lahir saya,” jawab Ferdi.

“Subhanallah! Bersyukurlah Allah masih memberikan umur panjang kepada Anda. Barakallahu fii umrik. Semoga Allah limpahkan keberkahan dalam umur dan kehidupan Anda. Anggap saja nasihat saya adalah hadiah untuk ulang tahun Anda. Insya Allah Anda akan jadi pengurus senat dan pemimpin yang baik dan dapat membawa kampus ini lebih baik lagi.”

“Aamin. Terima kasih, Kyai,” Ferdi tersenyum.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar