Rabu, 28 September 2022

Wedangan Pendhopo yang Aduhai

 

Kota Solo. Apa yang terbayang ketika berbicara tentang kota ini? Baju batik, wanita yang lemah gemulai koyo macan luwe, atau kuliner tradisional yang enak dengan harga murah? Ya, gambaran itu tak ada yang salah sama sekali.

Mus Mulyadi pernah memopulerkan lagu berjudul Kota Solo. Liriknya seperti ini: Kota Solo kota tempat kesenian asli, tarian indah murni irama yang mengiringi, banyak pesiaran sejak purba hingga kini, para agung serta pendeta sungguh maha sakti. Indah, bukan?

Selasa, 13 September 2022

Ayah Tak Sakit Lagi

Bonggan menatap layar komputer yang menyajikan grafik penjualan. Tangan kirinya memainkan bolpoin. Berputar-putar, tombol atasnya ditekan lalu dilepas lagi. Tangan kanannya memutar tetikus, menyoroti beberapa kalimat presentasi yang menurutnya perlu diperbaiki.

Di sebelah kanan papan ketik, sepiring makanan selat belum dihabiskan. Tinggal tersisa sepotong kentang, selada, dan buncis. Bonggan masih berkonsentrasi pada pekerjaannya. Ia bahkan tak peduli pada tatapan Mas Tumben yang dari tadi memperhatikannya.

Hujan Enggan untuk Berhenti

 Hujan enggan untuk berhenti. Tetesan airnya satu per satu menembus pori-pori bumi lalu meresap ke dalam tanah. Ketika pori-pori itu rapat karena tumpukan debu yang sudah basah, air dibiarkan mengalir menuju dataran yang lebih rendah. Aliran itu lama-kelamaan mengenai bibir sungai, bermigrasi ke tengah, dan meluap. Sungai menjadi keruh karena bercampur dengan lumpur yang terbawa arus.

Pak Kasno membiarkan potongan kayu yang ia jemur di depan rumah basah oleh hujan. Kayu-kayu itu adalah patahan ranting yang jatuh dari pepohonan di sekitar hutan di Bukit Sitanjung. Setiap hari Pak Kasno mencari patahan ranting dari satu tempat ke tempat lainnya untuk dikumpulkan lalu dijual ke pasar. 

Kisah Sepotong Tempe

Bonggan melahap hidangan yang menurutnya istimewa siang itu: sayur asam, tempe goreng, ikan asin, dan sambal terasi. Sayur dan sambal dicampur dan diaduk-aduk sehingga membuat warna nasi menjadi kemerahan. Bagi Bonggan, warna itu membuatnya bersemangat.

Suapan nasi dan sayur asam ke mulutnya menimbulkan bunyi slruuup yang khas. Seperti seruputan teh panas. Bunyi itu terdengar di penjuru ruang tengah tempat penghuni rumah makan siang. 

Mushallaku yang Malang

Dug! Dug! Cek! Bunyi pengeras suara mushalla mengusik keramaian. Wardi yang menyalakannya. Seperti biasa. Sesaat lagi waktu maghrib tiba. Ia yang bertanggung jawab melantunkan adzan.

Shalawat tarhim menjadi awalan sebelum adzan dikumandangkan. Sebuah rekaman dinyalakan. Suaranya sangat merdu dan syahdu. Ash shalatu wassalamu ‘alaik, ya Imamal Mujahidin. Ya Rasulallah…!