Tanah Kerajaan Dharma Pertiwi diapit oleh samudera di sisi barat dan pegunungan di sisi timur. Sang Maha Welas Asih begitu sayang kepada hamba-Nya. Dijadikan negeri Dharma Pertiwi subur dan makmur. Panas dan hujan silih berganti. Air yang mengalir ke sungai mencukupi apa yang menjadi kebutuhan rakyat Dharma Pertiwi. Tak ada banjir, tak ada longsor, tak ada gempa bumi.
Kerajaan Dharma Pertiwi dipimpin seorang wanita bergelar Sang Ratu. Ia adalah ratu pertama yang memimpin kerajaan sejak ayahandanya wafat sepuluh tahun lalu. Karena tak ada pewaris tahta laki-laki, seluruh punggawa kerajaan sepakat mengangkat Sang Ratu sebagai pemimpin. Sejatinya ia sudah bersuami. Namun, karena sang suami bukan dari kalangan bangsawan, Sang Ratulah yang menjadi nakhoda Kerajaan Dharma Pertiwi.
Sang Ratu mempunyai beberapa staf ahli serta membawahi beberapa pejabat berpangkat “adipati”. Salah satu adipati yang sangat ia percaya adalah Adipati Suryo Trenggono. Selain jujur, Adipati Suryo Trenggono dikenal tegas. Tugas utamanya adalah semua hal yang berhubungan dengan penegakan hukum dan keadilan di Kerajaan Dharma Pertiwi. Ia mempunyai hakim yang terpercaya serta beberapa telik sandi.
Arya Waskita adalah prajurit yang multitalenta. Selain kepiawaiannya dalam dunia telik sandi, ia juga pandai membuat syair dan mengarang cerita. Kedudukannya di bawah Adipati Suryo Trenggono, namun Sang Ratu juga punya wewenang memerintahkan langsung telik sandi andalannya itu.
Suatu hari, Arya Waskita mendapatkan tugas langsung dari Sang Ratu membuat maklumat untuk disampaikan kepada seluruh rakyat di Kerajaan Dharma Pertiwi. Oleh Arya Waskita, maklumat itu dibuat dalam bentuk syair. Ternyata syair buatan Arya Waskita sangat memukau rakyat Dharma Pertiwi. Bahasanya halus, rimanya sangat indah. Tidak terkesan menggurui atau memerintah, tetapi meresap ke sanubari. Sang Ratu puas dengan hasil pekerjaan Arya Waskita.
Menjelang bulan Suro, istana Kerajaan Dharma Pertiwi diterpa isu kurang sedap. Seorang adipati dituduh melakukan korupsi. Istana segera bertindak dengan mengusut secara tuntas untuk membuktikan bahwa tindakan korupsi bukan inisiatif istana atau kerajaan. Bagaimana pun, isu itu berpotensi meruntuhkan marwah dan kepercayaan istana.
Arya Waskita merasa harus bertindak menurut cara dan kemampuannya. Tanpa diminta, ia membuat syair dan cerita sendiri untuk disampaikan kepada khalayak. Berharap langkahnya bisa memulihkan kredibilitas istana. Bersyukur, dalam beberapa hari saja isu korupsi yang melanda istana dapat diredam.
Sadar bahwa apa yang dikerjakannya adalah inisiatifnya sendiri, Arya Waskita melaporkan hal itu kepada Sang Ratu, semata-mata sebagai wujud penghormatan. Sang Ratu berkenan dengan apa yang dilakukan Arya Waskita. Ia justru berterima kasih kepada Arya Waskita karena melakukan apa yang semestinya dilakukan sebagai seorang prajurit dan telik sandi.
Suatu hari, Arya Waskita jatuh sakit. Kepalanya pening, badannya panas dan terasa sakit di seluruh persendian. Sang Ratu mengutus Adipati Suryo Trenggono untuk mengirimkan seorang tabib demi mengobati sakit Arya Waskita. Ditunjuklah Raden Waru selaku tabib yang berada di dekat dusun tempat tinggal Arya Waskita.
Oleh Raden Waru, Arya Waskita diberi beberapa obat dan ramuan. Satu di antara obat dan ramuan itu merupakan pemberian Sang Ratu sendiri. Sengaja dititipkan melalui Raden Waru supaya Arya Waskita tidak sungkan meminum obat pemberian Sang Ratu.
Alhasil, dalam beberapa hari sakit Arya Waskita sembuh. Kabar kesembuhannya sampai ke telinga Sang Ratu. Ratu di Kerajaan Dharma Pertiwi itu sangat senang. Ia berharap Arya Waskita bisa terus berkarya demi kebaikan rakyat Dharma Pertiwi.
Belum lama Arya Waskita sembuh dari sakit, tiba-tiba beberapa penduduk dusun diserang wabah yang entah datang dari mana. Gejalanya hampir sama dengan apa yang dulu dialami Arya Waskita. Wabah begitu cepat menyebar. Penduduk yang mengalami sakit makin banyak. Hanya dalam beberapa hari saja, separuh lebih rakyat di Kerajaan Dharma Pertiwi terserang penyakit.
Sang Ratu panik mendengar laporan dari Adipati Suryo Trenggono tentang apa yang menimpa rakyat Dharma Pertiwi. Ia memerintahkan agar masyarakat menjaga diri masing-masing. Jangan ada yang berkumpul di satu tempat dalam jumlah banyak. Pihak kerajaan menjamin kebutuhan pangan dan obat-obatan untuk seluruh rakyat.
Perintah itu ditaati oleh seluruh rakyat Dharma Pertiwi. Mereka banyak berdiam diri di rumah sembari menunggu bantuan pangan dan obat-obatan dari kerajaan. Kehidupan ekonomi nyaris lumpuh. Tak ada orang yang berani melakukan jual-beli. Hasil pertanian hanya dinikmati sendiri atau disimpan untuk beberapa hari.
Agar rakyat tenang dalam menghadapi wabah, Sang Ratu memerintahkan Arya Waskita membuat syair dan cerita untuk disampaikan kepada khalayak. Sang prajurit melaksanakan tugasnya dengan baik. Apa yang disampaikan oleh Arya Waskita melalui tulisannya ditaati oleh rakyat. Sang Ratu senang mendengarnya.
Tiba-tiba, terdengar kabar ada seorang penduduk yang berbuat curang. Ia mencuri makanan dari tetangganya dengan alasan jatah makanan dari kerajaan tak mencukupi. Sedangkan keluarganya hampir semuanya terserang wabah. Ia seolah lupa bahwa pihak kerajaan menerapkan hukuman yang tidak ringan untuk pasal pencurian. Pelakunya bisa saja dicambuk di muka umum supaya jera.
Diam-diam Adipati Suryo Trenggono datang menemui Arya Waskita. Di suatu malam, ia masuk ke pekarangan rumah Arya Waskita. Setelah mendengar ketukan kayu sebanyak tiga kali, Arya Waskita sadar bahwa itu adalah Adipati Suryo Trenggono yang diutus oleh Sang Ratu. Tidak ada orang yang tahu bahwa Arya Waskita adalah seorang telik sandi kerajaan. Lencana yang menandakan bahwa ia adalah prajurit kerajaan disembunyikan di balik celananya.
Dengan suara pelan, Adipati Suryo Trenggono menyampaikan pesan Sang Ratu agar Arya Waskita mencari informasi mengenai kebenaran penduduk yang mencuri makanan dari tetangganya itu. Dalami motif pelaku melakukan perbuatannya. Jika terbukti benar, beri tahu segera ke telik sandi yang lain lalu lakukan penangkapan.
Berdasarkan informasi dan barang bukti, Arya Waskita dapat membuktikan bahwa kabar yang didengar pihak kerajaan ternyata benar. Bahkan, penduduk yang melakukan pencurian itu berani menentang keputusan kerajaan. Selain tidak percaya dengan wabah yang sedang melanda, ia bahkan memutuskan untuk tetap berniaga ke wilayah lain. Alasannya, persediaan makanan makin menipis. Sementara pemberian dari kerajaan tidak mencukupi untuk seluruh anggota keluarganya.
Akhirnya, bersama-sama dengan Adipati Suryo Trenggono dan telik sandi yang lain, Arya Waskita melakukan penangkapan kepada pelaku pencurian. Selesai dengan tugasnya, Arya Waskita meminta izin untuk kembali ke dusunnya. Ia tak ingin orang lain mengetahui profesinya sebagai orang kerajaan.
Akhirnya, tanpa disertai Arya Waskita, pelaku pencurian dibawa ke kerajaan untuk dihadapkan kepada Sang Ratu. Biarlah nanti Sang Ratu memutuskan hukuman apa yang akan diberikan.
Sebelum pelaku itu dibawa, Arya Waskita menitipkan pesan kepada Adipati Suryo Trenggono untuk disampaikan kepada Sang Ratu. Ia ingin istirahat sejenak dari pekerjaannya sebagai penyair, pengarang, dan telik sandi. Hanya beberapa saat saja. Mungkin satu bulan ke depan. Ia beralasan, ibunya menderita sakit yang sama dengan orang-orang di sekitarnya. Badannya panas dan sesak nafas.
Adipati Suryo Trenggono menyampaikan pesan Arya Waskita kepada Sang Ratu. Di luar dugaan, Sang Ratu menolak kemauan Arya Waskita. Ia ingin agar Arya Waskita tetap menjalankan tugasnya karena itu adalah bukti kesetiaannya kepada raja. Apalagi dulu ketika sakit, ia mendapatkan bantuan obat dan ramuan dari kerajaan. Buat Sang Ratu, tak ada alasan Arya Waskita untuk istirahat. Menurutnya, ibunya yang sakit biarlah dirawat oleh orang lain. Arya Waskita tetap harus bekerja seperti perintah Sang Ratu.
Mendengar itu, Arya Waskita kecewa. Ia merasa pengorbanannya tak dihargai. Apalagi ini menyangkut sakit orang tuanya sendiri. Ibunya. Orang yang melahirkannya. Tak pantas jika bukan ia sendiri yang merawat ketika ibundanya sakit. Ia akan merasa menjadi anak durhaka dan terlaknat jika tidak membaktikan dirinya kepada ibunya sendiri. Sementara, kesetiaannya kepada Sang Ratu sudah ia buktikan dan disaksikan oleh banyak orang. Arya Waskita tetap pada pendiriannya. Ia mulai mengabaikan titah Sang Ratu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar