Entah apa yang
merasuki tubuh Warso. Bocah bertubuh tambun berkulit hitam itu susah payah
menahan kantuk yang menyerangnya dengan sangat ganas. Katup mulutnya berulang
kali terbuka. Ia duduk menyandar. Tak sadar lagi kalau peci lusuh yang
dikenakannya sudah miring dan nyaris terlepas.
Kuliah shubuh di
Masjid Al Munawar baru saja dimulai. Kali ini yang mengisi kajian adalah Kyai
Suryo. Sebetulnya, materi yang disampaikan Kyai Suryo sangat menarik. Tentang
kewajiban anak terhadap orang tua. Agar mudah dipahami, beberapa kisah
dituturkan sang kyai sebagai media menyampaikan nasihat.
Kyai Suryo lalu mengutip
Al-Qur’an surat Luqman ayat 14 dan menjelaskan maknanya.
“Wa wash-shoinaa,
lan dhawuh Ingsun Gusti Allah,” kata Kyai Suryo membuka terjemah ayat dalam
bahasa Jawa, “al insaana, marang manungsa. Bi waalidaihi, kelawan
wong tuwane loro. Maksude yaiku marang wong tuwa loro, bapak lan biyung. Ihsaanaa,
pada ngabekti sopo menungsa.”
(Dan Kami
perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang ibu-bapaknya).
“Hamalat hu,
kang wis mbobot utawa meteng. Ummuhuu, biyunge menungsa. Wahnan ‘alaa
wahnin, kang nandang reribet awake sangsaya abot. Susah ing atase susah!”
(Ibunya telah
mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah).
Kyai Suryo menghentikan
sejenak kalimatnya. Matanya berkaca-kaca. Lalu air bening menetes dari kelopak
matanya. Jamaah terdiam, ikut larut dalam aura kesedihan yang dipancarkan Kyai
Suryo.
“Wa fishooluhuu,
biyunge nusoni lan panyapihe nganti umur rong tahun. Maksude sak wise lahir
jabang bayine.”
(Dan menyapihnya
dalam dua tahun).
“Anisykur lii,
he manungsa, sira padha syukura marang Ingsun. Wa liwaalidaika, lan
marang wong tuwanira loro.”
(Bersyukurlah
kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu).
“Ilayyal
mashiir, marang Ingsun sira kabel bakal bali.”
(Kepada-Ku
kalian akan kembali).
Sebuah nasihat
yang sangat dalam maknanya. Membuat bergetar hati siapa saja yang
mendengarkannya. Beberapa orang masih larut dalam kesedihan yang dipancarkan
Kyai Suryo. Namun, apa yang sebenarnya ada di benak masing-masing, entahlah.
Bagi bocah seperti
Warso, suara Kyai Suryo dianggap terlalu pelan. Alih-alih mendengarkan kajian,
bocah itu makin pulas tidur di tembok masjid. Mungkin karena baru satu jam yang
lalu perutnya terisi dengan makanan sahur. Apalagi porsi makannya memang banyak.
“Takut nanti
kelaparan,” kilahnya kalau ditanya mengapa mesti makan banyak waktu sahur.
Setelah
mengikuti kajian, jamaah bersalaman dan mencium tangan Kyai Suryo. Mengucapkan
terima kasih atas nasihat sang kyai. Warso terbangun. Ia dan beberapa temannya
ikut bersalaman dengan Kyai Suryo.
“Kamu paham yang
Bapak sampaikan, Warso?” tanya Kyai Suryo.
“Warso tidur,
Kyai!” Darto yang di belakang malah menjawab pertanyaan Kyai Suryo.
Mata Warso
melotot ke arah Darto. “Awas ya, kamu!” Warso tak terima perihal tidurnya
diutarakan ke sang kyai. Namun, Kyai Suryo malah tertawa. Dielusnya ubun-ubun
dan punggung Warso. Anak itu tak jadi emosi.
Jamaah pengajian
meninggalkan masjid dan sibuk dengan urusannya masing-masing. Para pedagang menyiapkan
barang dagangannya untuk dijual ke pasar. Ada bahan makanan, palawija, dan
rempah-rempah. Hewan ternak seperti kambing dan ayam dikeluarkan dari kandang
oleh si empunya untuk dijual di pasar. Kebetulan sekarang hari Pahing, hari
pasaran orang Lebaksiu. Pasar pasti sangat ramai.
Warso dan
teman-temannya lebih suka bermain ke sungai. Jalan-jalan di atas Brug Sunglon
atau turun ke sungai Kaligung sekadar untuk membasahi kaki alias kecehan.
Setiap pagi
kawasan Kaligung dan Brug Sunglon selalu ramai. Namun, anak-anak tak berani
mandi di sungai karena takut mulutnya kemasukan air yang membuat puasa menjadi
batal. Bagaimana pun, mandi di sungai sebisa mungkin dihindari selama bulan
Ramadan seperti ini.
Sedikit kita
bahas tentang Brug Sunglon. Kata ‘brug’ berasal dari bahasa Belanda yang
artinya jembatan. Memang, jembatan yang saat ini menjadi cagar budaya itu
dahulu dibangun di masa pemerintahan Hindia Belanda.
Saat itu,
pemerintah Hindia Belanda tengah menerapkan politik etis sebagai pengganti
kebijakan cultuur stelsel yang terbukti sangat menyengsarakan rakyat.
Kebijakan yang secara ekonomi sangat menguntungkan Belanda di satu sisi
ternyata menimbulkan korban jiwa yang sangat banyak bagi penduduk pribumi.
Belanda banjir kritik dari berbagai negara.
Melalui politik
etis, Belanda membangun banyak infrastruktur seperti sekolah, rumah sakit,
bendungan, dan jembatan. Termasuk Brug Sunglon di Lebaksiu.
Pembuatan Brug
Sunglon termasuk unik dan perencanaannya sangat matang. Berawal dari rekayasa
membangun aliran sungai buatan di Bendungan (praise d’au) Danawarih pada
akhir 1911. Sungai buatan yang berada di sisi kiri bendungan itu dibangun
sepanjang kurang lebih 5 kilometer ke arah utara: Lebaksiu. Sebagian air di
Bendungan Danawarih diarahkan ke sungai tersebut.
Di ujung sungai
buatan itu dibangunlah sebuah jembatan yang kemudian dikenal sebagai Brug
Sunglon dengan panjang 125 meter dan lebar sekitar 3 meter. Jembatan itu
menghubungkan tebing di kiri dan kanan Kaligung. Di dalam jembatan terdapat air
yang mengalir dari barat ke timur melintangi Kaligung. Seiring dengan
pembangunan sungai buatan di barat Kaligung, di sisi timur juga dibangun
sungai.
Jadi, tujuan
utama pembangunan Brug Sunglon adalah membangun sistem irigasi dengan mengalirkan
air ke wilayah yang semula tak terjangkau aliran sungai Kaligung dengan
memanfaatkan Bendungan Danawarih yang posisinya lebih tinggi. Berkat rekayasa
tersebut, wilayah yang semula kering menjadi subur karena tersedia air di
sepanjang waktu.
Fondasi Brug
Sunglon sangat kokoh. Laporan berjudul Verslag over de Burgerlijke Openbare
Werken ini Nederlansche-Indie over Het Jaar 1913 menyebutkan, fondasi itu
terbuat dari batu besar dan campuran pasir-semen dengan kedalaman 6 meter dari
dasar sungai. Jika dilihat dari bawah, ada 5 kolom jembatan dengan bentang
lebar 25 meter dan 2 kolom dengan bentang 10 meter. Itu sudah sangat kuat
menopang bobot jembatan dan aliran air di atasnya. Sungguh konstruksi bangunan
yang sangat menakjubkan untuk masanya.
Darto memisahkan
diri dari rombongan Warso. Ia berniat mencari ikan dan udang. Penduduk Lebaksiu
sungguh beruntung. Sungai Kaligung dianugerahi oleh Yang Maha Welas Asih dengan
aneka ragam ikan. Ada wader, uceng, lele, kekel, kutuk, hingga deleg.
Dari aneka jenis
ikan itu, wader paling banyak tersedia. Namun, ikan ini paling sulit ditangkap
dengan tangan kosong. Kalau bukan diseser, ikan ini mesti dipancing atau
dijala. Darto memilih menangkap udang. Hanya dengan dua telapak tangan,
pergerakan hewan itu dapat dibatasi lalu ditangkap.
Kelestarian alam
ini perlu dijaga. Jangan ada yang mengotorinya dengan sampah atau limbah. Masih
banyak sawah dan ladang di sekitar Kaligung. Itu adalah sumber makanan bagi
penduduk sekitar sungai yang memilih mata pencaharian sebagai petani. Juga bagi
hewan ternak seperti kambing dan kerbau yang makan rumput di pinggir sungai.
Tatkala matahari
sudah di atas 60 derajat, Warso, Darto, dan teman-temannya kembali ke rumah. Udara
makin terasa panas. Jika mereka terus berjemur, bukan saja kulit menjadi
kering. Tenggorokan pun jadi ikut kering. Dahaga menyerang.
Untuk anak-anak,
hal itu membahayakan keberlangsungan puasa mereka. Maka, kembali dan berteduh
di rumah adalah pilihan paling masuk akal supaya kuat berpuasa hingga sore
nanti.
Hari terus
berjalan. Matahari beringsut pelan ke arah barat. Menghiasi cakrawala dengan
semburat warna jingga. Mengabarkan kepada manusia bahwa waktu berbuka puasa
hampir tiba. Mushalla menyenandungkan shalawat dari berbagai penjuru.
Menyanjung pribadi yang sangat luhur akhlaknya yaitu Baginda Nabi SAW.
Sopo wonge
seneng Kanjeng Nabi
Bareng-bareng
ning suwarga
Begitu syair
yang seringkali dilantunkan dari pengeras suara mushalla.
Dari sebuah
rumah, mengalun lagu gambus qasidah. Penyanyinya adalah seorang qari’ah ternama,
Hj. Sarini Abdullah. Dari goresan tangan seorang pedagang kaki lima bernama
Ubaedi alias Ubaidillah bin Mas’an, syair lagu itu memberikan pesan kepada
semua orang yang beriman untuk berpuasa.
Wahai insan
yang beriman
kerjakan
puasa Ramadhan
itulah
perintah Tuhan
janganlah
kita tinggalkan
mari kita
kerjakan
puasa bulan
Ramadhan
Indah sekali Ramadan
hari ini. Hampir semua sisi mengajak manusia untuk khusyuk beribadah. Mengisi
hari-hari dengan membaca Al-Qur’an dan berzikir seraya memuji Allah dan
Rasulullah SAW. Riuh anak-anak bermain di halaman dan belakang rumah terdengar
hingga ke mushalla. Mereka hendak membunuh waktu, menunggu datangnya saat
berbuka puasa.
Akhirnya, maghrib
benar-benar tiba. Kebahagiaan menyelimuti semua orang yang berbuka puasa. “Ya
Allah, untuk-Mu aku berpuasa. Kepada-Mu aku beriman. Atas rezeki-Mu aku
berbuka. Dengan rahmat-Mu duhai Yang Maha Pengasih.”
Bulan purnama
telah dua hari berlalu. Bentuknya tak lagi bulat sempurna. Adzan isya membahana.
Warso dan teman-temannya yang masih bermain petak umpet segera menuju Masjid Al
Munawar. Shalat isya dan tarawih didirikan. Kyai Suryo yang menjadi imamnya.
Dasar anak-anak.
Usai shalat isya bukannya mengerjakan shalat sunnah tarawih 20 rakaat, mereka malah
kembali bermain di halaman masjid. Berlarian kian kemari sambil tetap mendengarkan
surat pilihan yang dibaca imam.
Seperti hari
lainnya, biasanya bacaan imam shalat setelah Al Fatihah adalah Al hakumut, Wal ashri,
Wailul, Alam taro, dan seterusnya hingga sampai ke Tabbat.
Sang bilal
meneriakkan kalimat melalui pengeras suara, “Al Khalifatur rabi’ li
Rasulillahi shallallahu ‘alaihi wasallam Sayyidina Ali bin Abi Thalib…!”
pertanda shalat tarawih hampir usai. Warso dan teman-temannya makin waspada.
Dua rakaat lagi tarawih masuk ke bagian akhir yaitu bacaan surat Tabbat.
“Tabbat yadaa
abii lahabiw watabb!” suara Kyai Suryo sangat merdu terdengar di pengeras
suara masjid. Anak-anak yang masih bermain di luar masjid segera berlari ke
dalam masjid. Mereka bergabung dengan jamaah lainnya. Diam. Pura-pura khusyuk.
Mereka tahu bahwa ini adalah bagian akhir dari tarawih dan tinggal menambah
shalat witir.
Sebetulnya
tingkah anak-anak itu menjengkelkan. Namun, para tetua tak mau terbawa emosi.
Mereka paham itulah kenakalan masa kanak-kanak. Sama seperti saat mereka kecil
dulu. Kelak ketika mulai besar, mereka harus terus didik untuk lebih tertib dan
ajek mengerjakan shalat. Harapan itu masiih ada. Suatu saat estafet dakwah
pasti akan beralih kepada mereka. Seperti terangnya rembulan yang memantulkan
cahaya matahari ke atap-atap rumah di bumi Lebaksiu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar