Kamis, 08 Juni 2023

Indahnya Ramadan di Kampung Kami

Entah apa yang merasuki tubuh Warso. Bocah bertubuh tambun berkulit hitam itu susah payah menahan kantuk yang menyerangnya dengan sangat ganas. Katup mulutnya berulang kali terbuka. Ia duduk menyandar. Tak sadar lagi kalau peci lusuh yang dikenakannya sudah miring dan nyaris terlepas.

Kuliah shubuh di Masjid Al Munawar baru saja dimulai. Kali ini yang mengisi kajian adalah Kyai Suryo. Sebetulnya, materi yang disampaikan Kyai Suryo sangat menarik. Tentang kewajiban anak terhadap orang tua. Agar mudah dipahami, beberapa kisah dituturkan sang kyai sebagai media menyampaikan nasihat.

Kyai Suryo lalu mengutip Al-Qur’an surat Luqman ayat 14 dan menjelaskan maknanya.

Wa wash-shoinaa, lan dhawuh Ingsun Gusti Allah,” kata Kyai Suryo membuka terjemah ayat dalam bahasa Jawa, “al insaana, marang manungsa. Bi waalidaihi, kelawan wong tuwane loro. Maksude yaiku marang wong tuwa loro, bapak lan biyung. Ihsaanaa, pada ngabekti sopo menungsa.”

(Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang ibu-bapaknya).

Hamalat hu, kang wis mbobot utawa meteng. Ummuhuu, biyunge menungsa. Wahnan ‘alaa wahnin, kang nandang reribet awake sangsaya abot. Susah ing atase susah!”

(Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah).

Kyai Suryo menghentikan sejenak kalimatnya. Matanya berkaca-kaca. Lalu air bening menetes dari kelopak matanya. Jamaah terdiam, ikut larut dalam aura kesedihan yang dipancarkan Kyai Suryo.

Wa fishooluhuu, biyunge nusoni lan panyapihe nganti umur rong tahun. Maksude sak wise lahir jabang bayine.”

(Dan menyapihnya dalam dua tahun).

Anisykur lii, he manungsa, sira padha syukura marang Ingsun. Wa liwaalidaika, lan marang wong tuwanira loro.”

(Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu).

Ilayyal mashiir, marang Ingsun sira kabel bakal bali.”

(Kepada-Ku kalian akan kembali).

Sebuah nasihat yang sangat dalam maknanya. Membuat bergetar hati siapa saja yang mendengarkannya. Beberapa orang masih larut dalam kesedihan yang dipancarkan Kyai Suryo. Namun, apa yang sebenarnya ada di benak masing-masing, entahlah.

Bagi bocah seperti Warso, suara Kyai Suryo dianggap terlalu pelan. Alih-alih mendengarkan kajian, bocah itu makin pulas tidur di tembok masjid. Mungkin karena baru satu jam yang lalu perutnya terisi dengan makanan sahur. Apalagi porsi makannya memang banyak.

“Takut nanti kelaparan,” kilahnya kalau ditanya mengapa mesti makan banyak waktu sahur.

Setelah mengikuti kajian, jamaah bersalaman dan mencium tangan Kyai Suryo. Mengucapkan terima kasih atas nasihat sang kyai. Warso terbangun. Ia dan beberapa temannya ikut bersalaman dengan Kyai Suryo.

“Kamu paham yang Bapak sampaikan, Warso?” tanya Kyai Suryo.

“Warso tidur, Kyai!” Darto yang di belakang malah menjawab pertanyaan Kyai Suryo.

Mata Warso melotot ke arah Darto. “Awas ya, kamu!” Warso tak terima perihal tidurnya diutarakan ke sang kyai. Namun, Kyai Suryo malah tertawa. Dielusnya ubun-ubun dan punggung Warso. Anak itu tak jadi emosi.

Jamaah pengajian meninggalkan masjid dan sibuk dengan urusannya masing-masing. Para pedagang menyiapkan barang dagangannya untuk dijual ke pasar. Ada bahan makanan, palawija, dan rempah-rempah. Hewan ternak seperti kambing dan ayam dikeluarkan dari kandang oleh si empunya untuk dijual di pasar. Kebetulan sekarang hari Pahing, hari pasaran orang Lebaksiu. Pasar pasti sangat ramai.

Warso dan teman-temannya lebih suka bermain ke sungai. Jalan-jalan di atas Brug Sunglon atau turun ke sungai Kaligung sekadar untuk membasahi kaki alias kecehan.

Setiap pagi kawasan Kaligung dan Brug Sunglon selalu ramai. Namun, anak-anak tak berani mandi di sungai karena takut mulutnya kemasukan air yang membuat puasa menjadi batal. Bagaimana pun, mandi di sungai sebisa mungkin dihindari selama bulan Ramadan seperti ini.

Sedikit kita bahas tentang Brug Sunglon. Kata ‘brug’ berasal dari bahasa Belanda yang artinya jembatan. Memang, jembatan yang saat ini menjadi cagar budaya itu dahulu dibangun di masa pemerintahan Hindia Belanda.

Saat itu, pemerintah Hindia Belanda tengah menerapkan politik etis sebagai pengganti kebijakan cultuur stelsel yang terbukti sangat menyengsarakan rakyat. Kebijakan yang secara ekonomi sangat menguntungkan Belanda di satu sisi ternyata menimbulkan korban jiwa yang sangat banyak bagi penduduk pribumi. Belanda banjir kritik dari berbagai negara.

Melalui politik etis, Belanda membangun banyak infrastruktur seperti sekolah, rumah sakit, bendungan, dan jembatan. Termasuk Brug Sunglon di Lebaksiu.

Pembuatan Brug Sunglon termasuk unik dan perencanaannya sangat matang. Berawal dari rekayasa membangun aliran sungai buatan di Bendungan (praise d’au) Danawarih pada akhir 1911. Sungai buatan yang berada di sisi kiri bendungan itu dibangun sepanjang kurang lebih 5 kilometer ke arah utara: Lebaksiu. Sebagian air di Bendungan Danawarih diarahkan ke sungai tersebut.

Di ujung sungai buatan itu dibangunlah sebuah jembatan yang kemudian dikenal sebagai Brug Sunglon dengan panjang 125 meter dan lebar sekitar 3 meter. Jembatan itu menghubungkan tebing di kiri dan kanan Kaligung. Di dalam jembatan terdapat air yang mengalir dari barat ke timur melintangi Kaligung. Seiring dengan pembangunan sungai buatan di barat Kaligung, di sisi timur juga dibangun sungai.

Jadi, tujuan utama pembangunan Brug Sunglon adalah membangun sistem irigasi dengan mengalirkan air ke wilayah yang semula tak terjangkau aliran sungai Kaligung dengan memanfaatkan Bendungan Danawarih yang posisinya lebih tinggi. Berkat rekayasa tersebut, wilayah yang semula kering menjadi subur karena tersedia air di sepanjang waktu.

Fondasi Brug Sunglon sangat kokoh. Laporan berjudul Verslag over de Burgerlijke Openbare Werken ini Nederlansche-Indie over Het Jaar 1913 menyebutkan, fondasi itu terbuat dari batu besar dan campuran pasir-semen dengan kedalaman 6 meter dari dasar sungai. Jika dilihat dari bawah, ada 5 kolom jembatan dengan bentang lebar 25 meter dan 2 kolom dengan bentang 10 meter. Itu sudah sangat kuat menopang bobot jembatan dan aliran air di atasnya. Sungguh konstruksi bangunan yang sangat menakjubkan untuk masanya.

Darto memisahkan diri dari rombongan Warso. Ia berniat mencari ikan dan udang. Penduduk Lebaksiu sungguh beruntung. Sungai Kaligung dianugerahi oleh Yang Maha Welas Asih dengan aneka ragam ikan. Ada wader, uceng, lele, kekel, kutuk, hingga deleg.

Dari aneka jenis ikan itu, wader paling banyak tersedia. Namun, ikan ini paling sulit ditangkap dengan tangan kosong. Kalau bukan diseser, ikan ini mesti dipancing atau dijala. Darto memilih menangkap udang. Hanya dengan dua telapak tangan, pergerakan hewan itu dapat dibatasi lalu ditangkap.

Kelestarian alam ini perlu dijaga. Jangan ada yang mengotorinya dengan sampah atau limbah. Masih banyak sawah dan ladang di sekitar Kaligung. Itu adalah sumber makanan bagi penduduk sekitar sungai yang memilih mata pencaharian sebagai petani. Juga bagi hewan ternak seperti kambing dan kerbau yang makan rumput di pinggir sungai.

Tatkala matahari sudah di atas 60 derajat, Warso, Darto, dan teman-temannya kembali ke rumah. Udara makin terasa panas. Jika mereka terus berjemur, bukan saja kulit menjadi kering. Tenggorokan pun jadi ikut kering. Dahaga menyerang.

Untuk anak-anak, hal itu membahayakan keberlangsungan puasa mereka. Maka, kembali dan berteduh di rumah adalah pilihan paling masuk akal supaya kuat berpuasa hingga sore nanti.

Hari terus berjalan. Matahari beringsut pelan ke arah barat. Menghiasi cakrawala dengan semburat warna jingga. Mengabarkan kepada manusia bahwa waktu berbuka puasa hampir tiba. Mushalla menyenandungkan shalawat dari berbagai penjuru. Menyanjung pribadi yang sangat luhur akhlaknya yaitu Baginda Nabi SAW.

Sopo wonge seneng Kanjeng Nabi

Bareng-bareng ning suwarga

Begitu syair yang seringkali dilantunkan dari pengeras suara mushalla.

Dari sebuah rumah, mengalun lagu gambus qasidah. Penyanyinya adalah seorang qari’ah ternama, Hj. Sarini Abdullah. Dari goresan tangan seorang pedagang kaki lima bernama Ubaedi alias Ubaidillah bin Mas’an, syair lagu itu memberikan pesan kepada semua orang yang beriman untuk berpuasa.

Wahai insan yang beriman

kerjakan puasa Ramadhan

itulah perintah Tuhan

janganlah kita tinggalkan

mari kita kerjakan

puasa bulan Ramadhan

Indah sekali Ramadan hari ini. Hampir semua sisi mengajak manusia untuk khusyuk beribadah. Mengisi hari-hari dengan membaca Al-Qur’an dan berzikir seraya memuji Allah dan Rasulullah SAW. Riuh anak-anak bermain di halaman dan belakang rumah terdengar hingga ke mushalla. Mereka hendak membunuh waktu, menunggu datangnya saat berbuka puasa.

Akhirnya, maghrib benar-benar tiba. Kebahagiaan menyelimuti semua orang yang berbuka puasa. “Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa. Kepada-Mu aku beriman. Atas rezeki-Mu aku berbuka. Dengan rahmat-Mu duhai Yang Maha Pengasih.”

Bulan purnama telah dua hari berlalu. Bentuknya tak lagi bulat sempurna. Adzan isya membahana. Warso dan teman-temannya yang masih bermain petak umpet segera menuju Masjid Al Munawar. Shalat isya dan tarawih didirikan. Kyai Suryo yang menjadi imamnya.

Dasar anak-anak. Usai shalat isya bukannya mengerjakan shalat sunnah tarawih 20 rakaat, mereka malah kembali bermain di halaman masjid. Berlarian kian kemari sambil tetap mendengarkan surat pilihan yang dibaca imam.

Seperti hari lainnya, biasanya bacaan imam shalat setelah Al Fatihah adalah Al hakumut, Wal ashri, Wailul, Alam taro, dan seterusnya hingga sampai ke Tabbat.

Sang bilal meneriakkan kalimat melalui pengeras suara, “Al Khalifatur rabi’ li Rasulillahi shallallahu ‘alaihi wasallam Sayyidina Ali bin Abi Thalib…!” pertanda shalat tarawih hampir usai. Warso dan teman-temannya makin waspada. Dua rakaat lagi tarawih masuk ke bagian akhir yaitu bacaan surat Tabbat.

Tabbat yadaa abii lahabiw watabb!” suara Kyai Suryo sangat merdu terdengar di pengeras suara masjid. Anak-anak yang masih bermain di luar masjid segera berlari ke dalam masjid. Mereka bergabung dengan jamaah lainnya. Diam. Pura-pura khusyuk. Mereka tahu bahwa ini adalah bagian akhir dari tarawih dan tinggal menambah shalat witir.

Sebetulnya tingkah anak-anak itu menjengkelkan. Namun, para tetua tak mau terbawa emosi. Mereka paham itulah kenakalan masa kanak-kanak. Sama seperti saat mereka kecil dulu. Kelak ketika mulai besar, mereka harus terus didik untuk lebih tertib dan ajek mengerjakan shalat. Harapan itu masiih ada. Suatu saat estafet dakwah pasti akan beralih kepada mereka. Seperti terangnya rembulan yang memantulkan cahaya matahari ke atap-atap rumah di bumi Lebaksiu.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar