Sakit ibunda Arya Waskita makin parah. Pada waktu yang telah ditentukan, ajal menjemput ibunda. Ia menghembuskan nafasnya yang terakhir. Arya Waskita sangat bersedih. Penduduk sekitar mendengar kabar duka itu. Mereka datang dan mengurusi jenazah ibunda Arya Waskita.
Kabar meninggalnya ibunda Arya Waskita sampai ke telinga Sang Ratu. Ia mengucapkan turut berdukacita. Melalui Adipati Suryo Trenggono, ia menitipkan pesan dukacita dan mempersilakan Arya Waskita untuk istirahat sementara waktu sembari menyelesaikan semua keperluan dalam rangka memakamkan ibundanya.
Melihat kehadiran Adipati Suryo Trenggono, Arya Waskita segera bangkit dari duduknya di depan jenazah ibunya. Ia berterima kasih atas kehadiran perwakilan kerajaan. Ia juga menerima salam dan mengucapkan terima kasih atas ucapan bela sungkawa dari Sang Ratu. Meskipun, secara jujur hatinya hancur. Ia sempat tak lagi menaruh rasa hormat kepada Sang Ratu. Namun, rasa itu harus ia sembunyikan. Bagaimana pun, Sang Ratu sudah memberikan perhatian. Entah tulus atau tidak, itu bukan urusan Arya Waskita.
Hari berganti hari. Bulan berganti bulan. Rasa sedih yang dirasakan Arya Waskita setelah ibundanya wafat pelan-pelan sirna. Ia kembali menjalankan tugas menulis syair dan mengarang cerita. Juga menjadi telik sandi, meskipun secara diam-diam.
Tiba-tiba, seorang utusan dari Kerajaan Bhumi Persada datang ke rumah Arya Waskita. Kerajaan ini letaknya sangat jauh dari wilayah Kerajaan Dharma Pertiwi. Namun, karena wilayah kekuasaanya yang lebih luas, kekuasaan Kerajaan Bhumi Persada dianggap berada di atas Kerajaan Dharma Pertiwi. Sang Ratu yang berkuasa atas Kerajaan Dharma Pertiwi pun mengaku tunduk kepada Raja Bhumi Persada.
Arya Waskita memberikan hormat kepada utusan Kerajaan Bhumi Persada. Utusan itu memberikan sepucuk surat kepada Arya Waskita. Isinya memerintahkan agar Arya Waskita menjadi seorang patih di Kerjaaan Bhumi Persada. Setelah membaca surat itu, Arya Waskita menarik nafas sejenak. Sejujurnya, hatinya sangat senang karena ia bisa mengabdi di kerajaan yang secara hierarkis berada di atas Kerajaan Dharma Pertiwi.
Semestinya, jika Bhumi Persada yang memerintah, tidak ada alasan Sang Ratu di Kerajaan Dharma Pertiwi untuk menolaknya. Namun, demi menghormati Sang Ratu, Arya Waskita meminta waktu sebentar kepada utusan Kerjaan Bhumi Persada untuk memohon keputusan terbaik dari Sang Ratu. Ini semata-mata demi kebaikan dan nama baik Sang Ratu dan Arya Waskita sendiri. Utusan itu pun kembali ke istana Kerajaan Bhumi Persada.
Arya Waskita datang sendiri ke istana kerajaan. Ia didampingi Adipati Suryo Trenggono untuk menghadap Sang Ratu. Setelah mengangkat tangan di atas kepala sebagai bentuk penghormatan, Arya Waskita menyampaikan maksud kedatangannya. Ia membacakan dan menjelaskan isi surat yang ia terima dari utusan Kerajaan Bhumi Persada. Sang Ratu mendengar kata-kata Arya Waskita dengan saksama.
Sang Ratu membetulkan sikap duduknya. Ia bersiap memberikan titah. Namun, ada yang aneh. Wajahnya terlihat tegang seperti menyimpan amarah. Ia menatap tajam Arya Waskita. Wajah Arya Waskita tertunduk. Ia tak berani menatap Sang Ratu yang sangat dihormati dan diaatinya itu.
Sang Ratu mengatakan bahwa sebenarnya tugas utama Arya Waskita selama ini adalah menjadi telik sandi. Jika selama ini Sang Ratu memerintahkan Arya Waskita membuat syair dan mengarang cerita, itu hanyalah tugas tambahan. Toh tidak setiap saat tugas itu diberikan. Malahan Arya Waskita banyak melakukan sendiri pekerjaan membuat syair dan mengarang tanpa diminta Sang Ratu. Setelah karyanya diikuti oleh rakyat Kerajaan Dharma Pertiwi, barulah Arya Waskita memberitahukannya kepada Sang Ratu.
Sang Ratu merasa tidak dihargai. Baginya, hal itu adalah sebuah pembangkangan. Apalagi, ia seperti melihat aura kemenangan di wajah Arya Waskita ketika mendapatkan permintaan dari Kerajaan Bhumi Persada. Bagi Sang Ratu, ini adalah pembangkangan kedua. Maka, tak ada ampun bagi pembangkang seperti Arya Waskita. Ia harus dihukum. Setidaknya, harus ada alibi untuk mematahkan perintah dari Kerajaan Bhumi Persada.
Akhirnya Arya Waskita diminta untuk pulang kembali ke dusun tempat tinggalnya. Sang Ratu tak memberikan keputusan apapun. Ia tak ingin memberikan keputusan penting langsung di depan Arya Waskita. Yang ia inginkan adalah agar Adipati Suryo Trenggono yang menyampaikannya kelak. Arya Waskita diliputi kecemasan dan kebingungan. Ia berharap ada kepastian apakah Sang Ratu merestui permintaan Kerajaan Bhumi Persada atau justru sebaliknya.
Beberapa hari kemudian, Adipati Suryo Trenggono datang ke kediaman Arya Waskita. Setelah mengucapkan salam, ia menyampaikan maksud kedatangannya. Ia mendapatkan amanat dari Sang Ratu untuk menyampaikan keputusan penting. Ternyata, Sang Ratu tidak setuju dengan permintaan Kerajaan Bhumi Persada.
Arya Waskita terkejut mendengar keputusan itu. Menurutnya, itu sebuah pembangkangan dari Kerajaan Dharma Pertiwi kepada Kerajaan Bhumi Persada. Sesuatu yang semestinya tidak boleh terjadi. Di luar itu, bahkan Sang Ratu mengancam jika Arya Waskita tetap pada keputusannya memenuhi panggilan dari Kerajaan Bhumi Persada, ia harus keluar dari dusun. Silakan menjadi rakyat di Kerajaan Bhumi Persada, dan tidak boleh kembali ke wilayah Kerajaan Dharma Pertiwi untuk selama-lamanya.
Bagai disambar petir, seluruh urat dan syaraf Arya Waskita terasa lemas. Ia tak sanggup berkata-kata lagi. Adipati Suryo Trenggono merasa menyesal telah menyampaikan keputusan Sang Ratu. Namun, ia hanya menjalankan tugas. Pesan Sang Ratu ia sampaikan secara utuh. Tak ada yang ditambah atau dikurangi.
Arya Waskita menyampaikan pendapatnya. Ia tetap patuh pada keputusan Sang Ratu. Kepada Adipati Suryo Trenggono, ia minta agar menyampaikan salam kepada Sang Ratu. Bagaimana pun, jasa Sang Ratu sangat besar. Ia adalah pemimpin di Kerajaan Dharma Pertiwi yang harus dijaga kehormatannya. Arya Waskita tak ingin ada ketegangan antara Kerajaan Dharma Pertiwi dan Kerajaan Bhumi Persada. Kedamaian di antara keduanya adalah hal terpenting yang harus dijaga.
Tiga hari setelah kepergian Adipati Suryo Trenggono, utusan dari Kerajaan Bhumi Persada datang ke rumah Arya Waskita. Ia menanyakan keputusan dari Sang Ratu terkait surat yang disampaikan oleh Kerajaan Bhumi Persada beberapa waktu lalu. Dengan pelan dan hati-hati, Arya Waskita menyampaikan keputusan Sang Ratu. Ia sadar betul bahwa keputusan itu tentu tak akan berkenan di hati Raja Bhumi Persada. Namun, itulah yang harus disampaikan.
Utusan itu kembali ke istana Kerajaan Bhumi Persada. Setelah melalui musyawarah bersama-sama dengan seluruh ahli dan petinggi kerajaan, Raja Bhumi Persada memutuskan untuk menerima dengan legowo apa yang menjadi keputusan Sang Ratu di Kerajaan Dharma Pertiwi. Namun, ini menjadi catatan penting bahwa Sang Ratu telah melakukan pembangkangan.
Meskipun demikian, tak perlu ada perang atau pun serangan. Biarlah nanti ada waktunya bagi Raja Bhumi Persada untuk memberikan keputusan. Untuk saat ini, prioritas utama adalah perdamaian di antara dua kerajaan. Meskipun sesungguhnya Kerjaan Bhumi Persada lebih berkuasa dibandingkan dengan Kerajaan Dharma Pertiwi.
Pada waktu yang ditentukan, Raja Bhumi Persada membuat sebuah keputusan penting. Ia merasa bahwa Sang Ratu sudah tidak lagi cakap menjalankan tugasnya sebagai pemimpin di Kerajaan Dharma Pertiwi dan karenanya harus diganti oleh orang yang lebih baik dan lebih bijak.
Akhirnya, diputuskan bahwa Pangeran Pulung yang merupakan putra dari Raja Bhumi Persada diangkat menjadi raja di Kerajaan Dharma Pertiwi, menggantikan Sang Ratu. Tidak ada peringatan apapun sebelum penunjukan dan pengangkatan itu. Hanya sepucuk surat berupa penggantian pimpinan Kerajaan Dharma Pertiwi dari Sang Ratu ke Pangeran Pulung. Sang Ratu tidak menyadari bahwa itu adalah akibat dari pembangkangannya kepada Kerajaan Bhumi Persada.
Sang Ratu kini hanya menjadi pegawai biasa di istana Kerajaan Bhumi Persada. Ia tetap mendapatkan penghidupan yang layak, tapi tak lagi bisa memerintah sebuah kerajaan. Mendengar pergantian itu, Arya Waskita merasa senang. Menurutnya, itu adalah keputusan yang adil. Cara Raja Bhumi Persada mengganti Sang Ratu dengan pejabat yang lain juga termasuk bagus, halus, dan mempertimbangkan kemanusiaan.
Rasa kecewa yang
dulu pernah dialami Arya Waskita tentu tak akan hilang. Kejadian yang
menimpanya ketika ibundannya tiada dan penolakan Sang Ratu terhadap dirinya yang
diminta menjadi pegawai di istana Kerajaan Bhumi Persada pun akan tetap
diingat. Baginya, hal itu bagaikan palung yang gelap. Arya Waskita merasa
palung itu bukan di lautan dalam, tetapi ada di bawah pijakannya. Di tepi
samudera. (Tamat)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar