Senin, 17 Mei 2021

Merem

Jam hampir menunjuk pukul delapan malam. Sebagian besar jamaah shalat sudah meninggalkan mushalla. Wirid dan doa sudah dilantunkan. Kyai Anwar masih duduk khusyuk di mihrab imam. Ia meneruskan wirid ma’tsurat hingga usai.


Di barisan makmum, Udin masih duduk. Ia setia sekali menunggu Kyai Anwar selesai dengan wiridnya. Ada hal yang ingin ditanyakan kepada sang kyai.

Beberapa saat kemudian, Kyai Anwar bangkit, hendak meninggalkan ruang shalat. Saat itulah Udin mendekat. Ia mengajak sang kyai bersalaman lalu mencium tangannya.

“Pak Kyai, boleh minta waktu sebentar?” tanya Udin.

“Maaf, tidak boleh,” Kyai Anwar menjawab ketus lalu lanjut melangkah. Tapi, tangannya ditahan oleh Udin yang masih terus menyalami sang kyai.

“Kenapa, Pak Kyai?”

Masih dengan tangan bersalaman, Kyai Anwar menjawab, “Karena waktu bukan milik saya. Tapi milik Allah.”

Udin tertawa mendengar jawaban Kyai Anwar.

“Eh, kalau begitu boleh saya bicara sebentar?” Udin meminta dengan cara yang berbeda.

Kyai Anwar tersenyum lalu menjawab, “Nah, itu baru boleh.”

“Pak Kyai bisa saja,” Udin tertawa. Ia duduk di lantai, diikuti oleh Kyai Anwar. Keduanya duduk bersila dan berhadapan.

“Ada apa, Udin?” tanya Kyai Anwar.

Udin menundukkan pandangan. Kali ini ia sangat takzim dengan orang yang ada di hadapannya. Lalu katanya, “Maaf, Pak Kyai. Saya lihat Pak Kyai sehari-hari tidak pernah merasa kekurangan.”

“Maksud kamu?” Kyai Anwar kaget dengan pernyataan Udin.

“Sepertinya kehidupan ekonomi Pak Kyai sangat tercukupi,” Udin mengacungkan jempolnya ke arah Kyai Anwar, “padahal kalau saya lihat tidak ada bisnis yang mencolok dari Pak Kyai.”

Kyai Anwar mulai merasa tak nyaman dengan pernyataan Udin. “Kau menyangka aku mendapatkan harta secara tidak halal?” tanya sang kyai.

“Bukan begitu, Pak Kyai. Justru saya ingin mendapatkan nasihat dari Pak Kyai,” kilah Udin.

“Nasihat apa?”

“Tolong nasihati saya supaya penghasilan yang saya peroleh bisa cukup untuk keluarga,” Udin menjelaskan sambil membungkukkan punggungnya. Ia ingin selalu terlihat hormat kepada Kyai Anwar. “Kalau perlu bisa berinfak dan sedekah. Entah untuk masjid, pesantren, atau anak yatim,” sambungnya.

“Apakah penghasilanmu tak cukup untuk menghidupi keluarga?”

“Sebetulnya cukup, Pak Kyai. Tapi saya merasa selalu ada yang kurang. Setiap bulan selalu kurang dan ada saja urusan yang belum terpenuhi.”

Kyai Anwar menarik nafas dalam-dalam. Ia hembuskan perlahan lalu berkata, “Udin, kira-kira menurutmu apakah aku ini terlihat kaya raya?”

Udin berpikir sejenak untuk menjawab pertanyaan Kyai Anwar. Pertanyaan itu seperti sebuah jebakan. Dia mesti hati-hati memilih kata.

“Kalau kaya raya sih tidak, Pak Kyai,” Udin mulai menata kalimat, “justru saya lihat ke mana-mana Pak Kyai jalan kaki. Kalau mau mengisi pengajian agak jauh, Pak Kyai sering dijemput pakai sepeda motor.”

Kyai Anwar paham arah pembicaraan Udin. “Tolong ambilkan ember dan gayung di tempat wudhu. Isi ember dengan air yang hampir penuh. Bawa kemari,” perintah sang kyai kepada Udin.

Udin bangkit dari duduknya. Ia berjalan menuju tempat wudhu. Kebetulan ember yang ia cari ada di sisi depan. Tapi, tak ada gayung. Ia membuka pintu toilet untuk mengambil sebuah gayung.

Ember yang ia peroleh diisi dengan air yang hampir penuh. Beberapa saat kemudian, ia telah berada di depan Kyai Anwar dan menyerahkan ember berisi air tersebut.

Kyai Anwar menumpahkan air dari ember ke gayung. Pelan-pelan sekali. Lama-lama, air di gayung penuh. Sang kyai tak menghentikan aliran air dari ember ke gayung. Air pun tumpah, meluber, membasahi lantai masjid.

“Sudah, Pak Kyai. Cukup,” Udin bermaksud menghentikan tindakan Kyai Anwar. Tapi, yang diajak bicara tak peduli. Ia terus menumpahkan air itu hingga membasahi lantai.

“Biarkan saja, Udin,” jawab Kyai Anwar dengan santai.

Udin tergopoh-gopoh mencari kain pel. Di dekat pintu masuk, ia mengambil kain seadanya. Kain itu digunakan untuk menyekat aliran air yang tumpah dari gayung. Kyai Anwar terus menumpahkan air itu seolah-olah tak memedulikan kepanikan Udin.

Udin pasrah dengan tindakan Kyai Anwar. Air yang tak lagi bisa disekat dengan kain dibiarkan mengalir ke arah mana yang disukai. Akhirnya, air di ember telah habis.

“Maaf, Pak Kyai. Sebetulnya apa maksud Pak Kyai?” Udin bertanya dengan nada protes. Jujur, adegan yang baru saja ia alami tak diinginkan sama sekali. Tapi, sepertinya Kyai Anwar menyengajanya. Udin khawatir Kyai Anwar marah.

Kyai Anwar meletakkan ember di sampingnya. Ia tersenyum lalu berkata, “Udin, rezeki Allah tidak mesti sama dengan penghasilan yang kita peroleh. Biar penghasilanmu sekarung sekali pun, kalau memang rezeki kamu cuma segenggam tangan, ya segenggam tangan itulah jatah kamu.”

Tangan Kyai Anwar menggenggam gagang gayung. Ia kembali meneruskan nasihatnya, “Sama seperti air di gayung. Itulah jatah kamu di dunia. Meskipun kamu berupaya mencari penghasilan sebanyak air di ember itu, gayungmu tak mampu menampungnya. Kau lihat, air justru meluber ke mana-mana.”

Udin diam. Ia mulai memahami maksud perbuatan Kyai Anwar. Ia mencoba mencerna dan mengolah kata-kata itu menjadi pelajaran berharga.

“Udin,” sambung Kyai Anwar, “banyak orang yang berlomba-lomba mencari harta. Bahkan dengan cara yang tidak halal sekali pun. Akibatnya, harta yang dia peroleh lari kemana-mana tidak karuan.

“Ada yang tiba-tiba sakit, dirawat di rumah sakit. Keluar biaya Rp50 juta. Ada yang anaknya kena penyakit, dioperasi di rumah sakit. Keluar biaya Rp100 juta. Bahkan ada yang sampai semua hartanya habis. Padahal sebelumnya ia kaya raya.”

Udin jadi teringat atasannya di kantor yang dulu kaya raya, tapi di masa tuanya mengalami sakit yang berkepanjangan hingga akhirnya atasannya itu memilih pensiun dini karena tak lagi sanggup bekerja sebagaimana pegawai yang lain.

“Lalu bagaimana caranya supaya air itu bisa tertampung di gayung seluruhnya?” Udin bertanya sambil mendongakkan kepalanya. Tapi, matanya masih menunduk. Ia tak berani menatap langsung wajah Kyai Anwar.

“Nah, pertanyaan bagus, Udin. Kau mulai paham rupanya,” Kyai Anwar tersenyum. “Berdoalah kepada Allah. Minta supaya Allah luaskan pintu rezeki. Bukakan pintu rezeki dari semua arah. Jadi, kita berdoa supaya gayungnya yang diperbesar. Bukan airnya yang diperbanyak,” sambung sang kyai.

“Tapi ingat,” tangan Kyai Anwar menunjuk ke arah wajah Udin.

“Apa, Pak Kyai?”

Kyai Anwar membenahi posisi kain serban yang hampir jatuh dari pundaknya. Ia melanjutkan nasihatnya, “Harta yang kita nikmati sendiri hanya habis untuk dunia kita. Makan, beli pakaian bagus, bersenang-senang, beli kendaraan, menikmati keindahan, dan sebagainya. Kau harus rajin menabung supaya hartamu langgeng.”

“Saya rajin menabung, Pak Kyai. Bahkan saya punya rekening deposito,” Udin antusias menyampaikan soal tabungan dan deposito. Pikirnya, apa yang ia lakukan mendapatkan pembenaran dari Kyai Anwar.

“Deposito di bank?” tanya Kyai Anwar.

“Iya, Pak Kyai!” jawab Udin mantap.

“Itu yang salah,” Kyai Anwar mengarahkan telunjuk kanannya ke muka Udin.

Udin terkejut, “Kok bisa?”

Kyai Anwar kembali tersenyum. Telapak tangannya ia letakkan di kedua pahanya, “Menabung yang manfaatnya kamu dapatkan dalam waktu yang tak terbatas bukan di bank. Tapi, titipkan masjid, pesantren, dan anak yatim. Memang kelihatannya harta kamu berkurang. Padahal hakikatnya harta itu bertambah. Harta yang kamu belanjakan di jalan Allah mendapatkan balasan yang berlipat ganda. Kamu percaya?”

“Belum, Pak Kyai,” jawab Udin dengan santai.

Rupanya jawaban Udin tidak berkenan di hati Kyai Anwar. Sang kyai mengambil posisi akan berdiri lalu katanya, “Ya sudah, kalau begitu saya pulang!”

Udin buru-buru meraih lengan tangan Kyai Anwar. “Eh, bukan begitu, Pak Kyai,” Udin merasa bersalah dengan kalimat yang keluar dari mulutnya, “maksudnya, saya percaya. Tapi perlu dikuatkan lagi supaya saya bisa melaksanakannya.”

Kyai Anwar kembali duduk bersila. Sambil menghentakkan telunjuknya ke lantai, ia berkata, “Ternyata di situ masalahnya.”

“Maksud Pak Kyai?”

“Kamu merasa berat untuk melepaskan harta yang kamu miliki,” sorot mata Kyai Anwar tajam ke arah Udin. Ia melanjutkan, “Udin, jangan menempatkan hartamu di hati. Cukup di tangan saja. Kapan pun harta itu harus ditempatkan, kamu akan merasa ringan. Rajin-rajinlah bersedekah. Jangan simpan untuk diri sendiri.”

“Tapi, kadang saya merasa uang tinggal sedikit, Pak Kyai. Sayang kalau disedekahkan. Istri suka minta ini-itu. Anak-anak apalagi,” Udin berkilah. Ia lalu bercerita tentang angsuran rumah, kendaraan, kebutuhan konsumsi keluarga, termasuk membantu saudaranya jika diperlukan.

“Justru infak itu nilainya besar di sisi Allah di saat harta kita sedang pas-pasan,” Kyai Anwar membantah alasan dan penjelasan Udin. “Tentu setelah kau tunaikan kewajibanmu kepada keluarga. Karena itu yang utama. Berinfak dan sedekahlah, baik dalam keadaan lapang maupun sempit. Di situ kamu akan merasakan kenikmatan beribadah,” sambung sang kyai.

Udin manggut-manggut. Entah paham atau tidak dengan kalimat Kyai Anwar. Sang kyai kembali menarik nafas dalam-dalam. Tak lama, ia lanjutkan kata-katanya, “Kamu cuma perlu melakukan satu hal Udin, yaitu merem.”

“Merem, Pak Kyai?” Udin terkejut dengan kata-kata Kyai Anwar.

“Iya. Merem.”

“Mohon dijelaskan, Pak Kyai. Saya belum paham,” pinta Udin dengan menelungkupkan telapak tangan di depan dada.

Kyai Anwar memegang pundak Udin lalu berkata, “Mungkin selama ini kamu berat untuk berinfak dan sedekah karena kalau mau mengeluarkan harta mata kamu masih ‘melek’. Kamu lihat berapa yang dikeluarkan. Lalu, kamu hitung sisanya. Cobalah sekali-kali ‘merem’.

“Bukan mata kamu yang merem. Tapi, berusaha untuk pura-pura tidak tahu.Jangan hiraukan berapa yang sudah dikeluarkan. Anggaplah itu sesuatu yang bukan hak kamu. Tapi, hak orang lain. Merem saja. Insya Allah lama-lama kamu akan terbiasa.”

Muka dan mata Udin menghadap ke Kyai Anwar, tapi pelan-pelan mata itu terpejam. Udin benar-benar merem. Ia seperti lelah mendengarkan nasihat dari sang kyai.

Kyai Anwar terus melanjutkan nasihatnya sambil melihat ke arah lantai.

“Kelak, setelah mati, setiap manusia akan menyesali kehidupannya yang teramat singkat. Ketika itu, ia ingin kembali ke dunia. Hanya ada satu amalan yang ingin dikerjakan: bersedekah.

“Ia mengira badannya bisa bangkit untuk berbuat kebaikan. Nyatanya, tak ada satu otot pun yang mampu digerakkan. Mungkin telinganya mendengar orang-orang sekelilingnya melantunkan kalimat tahlil, mengantarkannya ke pembaringan terakhir.

“Pada saat itu, waktu tak dapat kembali. Kamu paham?” Kyai Anwar menatap muka Udin. Yang ditanya hanya. Rupanya Udin tertidur meskipun badannya masih terlihat tegak.

Pak Kyai menjitak keras kepala Udin. Takk!!! Udin terkejut.

“Dasar kamu! Dinasihati merem malah merem betulan.”

“Aduh, maafkan saya, Pak Kyai. Saya tidak sengaja. Mungkin ada setan lewat lalu membuat saya mengantuk.”

“Setan itu bukan hanya dari golongan jin. Tapi juga manusia.”

“Maksud Pak Kyai bagaimana?”

“Bisa jadi kamu setannya. Sudah sana pulang!”

 

4 komentar:

  1. Saya biasa merem pak ustad. Khususnya klo lagi rapat zoom

    BalasHapus
  2. hahaha... penggalan terakhir menarik. Terima kasih atas pencerahannya

    BalasHapus
  3. Terima kasih, Alhamdulillah pencerahan yang mendalam, semoga bisa selalu melaksanakannya. Aamiin

    BalasHapus