Jam
hampir menunjuk pukul delapan malam. Sebagian besar jamaah shalat sudah
meninggalkan mushalla. Wirid dan doa sudah dilantunkan. Kyai Anwar masih duduk
khusyuk di mihrab imam. Ia meneruskan wirid ma’tsurat
hingga usai.
Di
barisan makmum, Udin masih duduk. Ia setia sekali menunggu Kyai Anwar selesai
dengan wiridnya. Ada hal yang ingin ditanyakan kepada sang kyai.
Beberapa
saat kemudian, Kyai Anwar bangkit, hendak meninggalkan ruang shalat. Saat
itulah Udin mendekat. Ia mengajak sang kyai bersalaman lalu mencium tangannya.
“Pak
Kyai, boleh minta waktu sebentar?” tanya Udin.
“Maaf,
tidak boleh,” Kyai Anwar menjawab ketus lalu lanjut melangkah. Tapi, tangannya
ditahan oleh Udin yang masih terus menyalami sang kyai.
“Kenapa,
Pak Kyai?”
Masih
dengan tangan bersalaman, Kyai Anwar menjawab, “Karena waktu bukan milik saya.
Tapi milik Allah.”
Udin
tertawa mendengar jawaban Kyai Anwar.
“Eh,
kalau begitu boleh saya bicara sebentar?” Udin meminta dengan cara yang
berbeda.
Kyai
Anwar tersenyum lalu menjawab, “Nah, itu baru boleh.”
“Pak
Kyai bisa saja,” Udin tertawa. Ia duduk di lantai, diikuti oleh Kyai Anwar.
Keduanya duduk bersila dan berhadapan.
“Ada
apa, Udin?” tanya Kyai Anwar.
Udin
menundukkan pandangan. Kali ini ia sangat takzim dengan orang yang ada di
hadapannya. Lalu katanya, “Maaf, Pak Kyai. Saya lihat Pak Kyai sehari-hari tidak
pernah merasa kekurangan.”
“Maksud
kamu?” Kyai Anwar kaget dengan pernyataan Udin.
“Sepertinya
kehidupan ekonomi Pak Kyai sangat tercukupi,” Udin mengacungkan jempolnya ke
arah Kyai Anwar, “padahal kalau saya lihat tidak ada bisnis yang mencolok dari
Pak Kyai.”
Kyai
Anwar mulai merasa tak nyaman dengan pernyataan Udin. “Kau menyangka aku
mendapatkan harta secara tidak halal?” tanya sang kyai.
“Bukan
begitu, Pak Kyai. Justru saya ingin mendapatkan nasihat dari Pak Kyai,” kilah
Udin.
“Nasihat
apa?”
“Tolong
nasihati saya supaya penghasilan yang saya peroleh bisa cukup untuk keluarga,”
Udin menjelaskan sambil membungkukkan punggungnya. Ia ingin selalu terlihat
hormat kepada Kyai Anwar. “Kalau perlu bisa berinfak dan sedekah. Entah untuk
masjid, pesantren, atau anak yatim,” sambungnya.
“Apakah
penghasilanmu tak cukup untuk menghidupi keluarga?”
“Sebetulnya
cukup, Pak Kyai. Tapi saya merasa selalu ada yang kurang. Setiap bulan selalu
kurang dan ada saja urusan yang belum terpenuhi.”
Kyai
Anwar menarik nafas dalam-dalam. Ia hembuskan perlahan lalu berkata, “Udin,
kira-kira menurutmu apakah aku ini terlihat kaya raya?”
Udin
berpikir sejenak untuk menjawab pertanyaan Kyai Anwar. Pertanyaan itu seperti
sebuah jebakan. Dia mesti hati-hati memilih kata.
“Kalau
kaya raya sih tidak, Pak Kyai,” Udin mulai menata kalimat, “justru saya lihat
ke mana-mana Pak Kyai jalan kaki. Kalau mau mengisi pengajian agak jauh, Pak
Kyai sering dijemput pakai sepeda motor.”
Kyai
Anwar paham arah pembicaraan Udin. “Tolong ambilkan ember dan gayung di tempat
wudhu. Isi ember dengan air yang hampir penuh. Bawa kemari,” perintah sang kyai
kepada Udin.
Udin
bangkit dari duduknya. Ia berjalan menuju tempat wudhu. Kebetulan ember yang ia
cari ada di sisi depan. Tapi, tak ada gayung. Ia membuka pintu toilet untuk
mengambil sebuah gayung.
Ember
yang ia peroleh diisi dengan air yang hampir penuh. Beberapa saat kemudian, ia
telah berada di depan Kyai Anwar dan menyerahkan ember berisi air tersebut.
Kyai
Anwar menumpahkan air dari ember ke gayung. Pelan-pelan sekali. Lama-lama, air
di gayung penuh. Sang kyai tak menghentikan aliran air dari ember ke gayung. Air
pun tumpah, meluber, membasahi lantai masjid.
“Sudah,
Pak Kyai. Cukup,” Udin bermaksud menghentikan tindakan Kyai Anwar. Tapi, yang
diajak bicara tak peduli. Ia terus menumpahkan air itu hingga membasahi lantai.
“Biarkan
saja, Udin,” jawab Kyai Anwar dengan santai.
Udin
tergopoh-gopoh mencari kain pel. Di dekat pintu masuk, ia mengambil kain
seadanya. Kain itu digunakan untuk menyekat aliran air yang tumpah dari gayung.
Kyai Anwar terus menumpahkan air itu seolah-olah tak memedulikan kepanikan
Udin.
Udin
pasrah dengan tindakan Kyai Anwar. Air yang tak lagi bisa disekat dengan kain
dibiarkan mengalir ke arah mana yang disukai. Akhirnya, air di ember telah
habis.
“Maaf,
Pak Kyai. Sebetulnya apa maksud Pak Kyai?” Udin bertanya dengan nada protes.
Jujur, adegan yang baru saja ia alami tak diinginkan sama sekali. Tapi,
sepertinya Kyai Anwar menyengajanya. Udin khawatir Kyai Anwar marah.
Kyai
Anwar meletakkan ember di sampingnya. Ia tersenyum lalu berkata, “Udin, rezeki
Allah tidak mesti sama dengan penghasilan yang kita peroleh. Biar penghasilanmu
sekarung sekali pun, kalau memang rezeki kamu cuma segenggam tangan, ya segenggam
tangan itulah jatah kamu.”
Tangan
Kyai Anwar menggenggam gagang gayung. Ia kembali meneruskan nasihatnya, “Sama
seperti air di gayung. Itulah jatah kamu di dunia. Meskipun kamu berupaya
mencari penghasilan sebanyak air di ember itu, gayungmu tak mampu menampungnya.
Kau lihat, air justru meluber ke mana-mana.”
Udin
diam. Ia mulai memahami maksud perbuatan Kyai Anwar. Ia mencoba mencerna dan
mengolah kata-kata itu menjadi pelajaran berharga.
“Udin,”
sambung Kyai Anwar, “banyak orang yang berlomba-lomba mencari harta. Bahkan
dengan cara yang tidak halal sekali pun. Akibatnya, harta yang dia peroleh lari
kemana-mana tidak karuan.
“Ada
yang tiba-tiba sakit, dirawat di rumah sakit. Keluar biaya Rp50 juta. Ada yang
anaknya kena penyakit, dioperasi di rumah sakit. Keluar biaya Rp100 juta.
Bahkan ada yang sampai semua hartanya habis. Padahal sebelumnya ia kaya raya.”
Udin
jadi teringat atasannya di kantor yang dulu kaya raya, tapi di masa tuanya
mengalami sakit yang berkepanjangan hingga akhirnya atasannya itu memilih
pensiun dini karena tak lagi sanggup bekerja sebagaimana pegawai yang lain.
“Lalu
bagaimana caranya supaya air itu bisa tertampung di gayung seluruhnya?” Udin bertanya
sambil mendongakkan kepalanya. Tapi, matanya masih menunduk. Ia tak berani
menatap langsung wajah Kyai Anwar.
“Nah,
pertanyaan bagus, Udin. Kau mulai paham rupanya,” Kyai Anwar tersenyum. “Berdoalah
kepada Allah. Minta supaya Allah luaskan pintu rezeki. Bukakan pintu rezeki
dari semua arah. Jadi, kita berdoa supaya gayungnya yang diperbesar. Bukan
airnya yang diperbanyak,” sambung sang kyai.
“Tapi
ingat,” tangan Kyai Anwar menunjuk ke arah wajah Udin.
“Apa,
Pak Kyai?”
Kyai
Anwar membenahi posisi kain serban yang hampir jatuh dari pundaknya. Ia
melanjutkan nasihatnya, “Harta yang kita nikmati sendiri hanya habis untuk
dunia kita. Makan, beli pakaian bagus, bersenang-senang, beli kendaraan,
menikmati keindahan, dan sebagainya. Kau harus rajin menabung supaya hartamu
langgeng.”
“Saya
rajin menabung, Pak Kyai. Bahkan saya punya rekening deposito,” Udin antusias
menyampaikan soal tabungan dan deposito. Pikirnya, apa yang ia lakukan
mendapatkan pembenaran dari Kyai Anwar.
“Deposito
di bank?” tanya Kyai Anwar.
“Iya,
Pak Kyai!” jawab Udin mantap.
“Itu
yang salah,” Kyai Anwar mengarahkan telunjuk kanannya ke muka Udin.
Udin
terkejut, “Kok bisa?”
Kyai
Anwar kembali tersenyum. Telapak tangannya ia letakkan di kedua pahanya, “Menabung
yang manfaatnya kamu dapatkan dalam waktu yang tak terbatas bukan di bank.
Tapi, titipkan masjid, pesantren, dan anak yatim. Memang kelihatannya harta
kamu berkurang. Padahal hakikatnya harta itu bertambah. Harta yang kamu
belanjakan di jalan Allah mendapatkan balasan yang berlipat ganda. Kamu
percaya?”
“Belum,
Pak Kyai,” jawab Udin dengan santai.
Rupanya
jawaban Udin tidak berkenan di hati Kyai Anwar. Sang kyai mengambil posisi akan
berdiri lalu katanya, “Ya sudah, kalau begitu saya pulang!”
Udin
buru-buru meraih lengan tangan Kyai Anwar. “Eh, bukan begitu, Pak Kyai,” Udin
merasa bersalah dengan kalimat yang keluar dari mulutnya, “maksudnya, saya
percaya. Tapi perlu dikuatkan lagi supaya saya bisa melaksanakannya.”
Kyai
Anwar kembali duduk bersila. Sambil menghentakkan telunjuknya ke lantai, ia
berkata, “Ternyata di situ masalahnya.”
“Maksud
Pak Kyai?”
“Kamu
merasa berat untuk melepaskan harta yang kamu miliki,” sorot mata Kyai Anwar
tajam ke arah Udin. Ia melanjutkan, “Udin, jangan menempatkan hartamu di hati.
Cukup di tangan saja. Kapan pun harta itu harus ditempatkan, kamu akan merasa
ringan. Rajin-rajinlah bersedekah. Jangan simpan untuk diri sendiri.”
“Tapi,
kadang saya merasa uang tinggal sedikit, Pak Kyai. Sayang kalau disedekahkan.
Istri suka minta ini-itu. Anak-anak apalagi,” Udin berkilah. Ia lalu bercerita
tentang angsuran rumah, kendaraan, kebutuhan konsumsi keluarga, termasuk
membantu saudaranya jika diperlukan.
“Justru
infak itu nilainya besar di sisi Allah di saat harta kita sedang pas-pasan,”
Kyai Anwar membantah alasan dan penjelasan Udin. “Tentu setelah kau tunaikan
kewajibanmu kepada keluarga. Karena itu yang utama. Berinfak dan sedekahlah, baik
dalam keadaan lapang maupun sempit. Di situ kamu akan merasakan kenikmatan
beribadah,” sambung sang kyai.
Udin
manggut-manggut. Entah paham atau tidak dengan kalimat Kyai Anwar. Sang kyai
kembali menarik nafas dalam-dalam. Tak lama, ia lanjutkan kata-katanya, “Kamu
cuma perlu melakukan satu hal Udin, yaitu merem.”
“Merem,
Pak Kyai?” Udin terkejut dengan kata-kata Kyai Anwar.
“Iya.
Merem.”
“Mohon
dijelaskan, Pak Kyai. Saya belum paham,” pinta Udin dengan menelungkupkan
telapak tangan di depan dada.
Kyai
Anwar memegang pundak Udin lalu berkata, “Mungkin selama ini kamu berat untuk berinfak
dan sedekah karena kalau mau mengeluarkan harta mata kamu masih ‘melek’. Kamu
lihat berapa yang dikeluarkan. Lalu, kamu hitung sisanya. Cobalah sekali-kali ‘merem’.
“Bukan
mata kamu yang merem. Tapi, berusaha untuk pura-pura tidak tahu.Jangan hiraukan
berapa yang sudah dikeluarkan. Anggaplah itu sesuatu yang bukan hak kamu. Tapi,
hak orang lain. Merem saja. Insya Allah lama-lama kamu akan terbiasa.”
Muka
dan mata Udin menghadap ke Kyai Anwar, tapi pelan-pelan mata itu terpejam. Udin
benar-benar merem. Ia seperti lelah mendengarkan nasihat dari sang kyai.
Kyai
Anwar terus melanjutkan nasihatnya sambil melihat ke arah lantai.
“Kelak,
setelah mati, setiap manusia akan menyesali kehidupannya yang teramat singkat.
Ketika itu, ia ingin kembali ke dunia. Hanya ada satu amalan yang ingin
dikerjakan: bersedekah.
“Ia
mengira badannya bisa bangkit untuk berbuat kebaikan. Nyatanya, tak ada satu
otot pun yang mampu digerakkan. Mungkin telinganya mendengar orang-orang
sekelilingnya melantunkan kalimat tahlil, mengantarkannya ke pembaringan
terakhir.
“Pada
saat itu, waktu tak dapat kembali. Kamu paham?” Kyai Anwar menatap muka Udin.
Yang ditanya hanya. Rupanya Udin tertidur meskipun badannya masih terlihat
tegak.
Pak
Kyai menjitak keras kepala Udin. Takk!!! Udin terkejut.
“Dasar
kamu! Dinasihati merem malah merem betulan.”
“Aduh,
maafkan saya, Pak Kyai. Saya tidak sengaja. Mungkin ada setan lewat lalu
membuat saya mengantuk.”
“Setan
itu bukan hanya dari golongan jin. Tapi juga manusia.”
“Maksud
Pak Kyai bagaimana?”
“Bisa
jadi kamu setannya. Sudah sana pulang!”
Saya biasa merem pak ustad. Khususnya klo lagi rapat zoom
BalasHapusmerem๐๐
BalasHapushahaha... penggalan terakhir menarik. Terima kasih atas pencerahannya
BalasHapusTerima kasih, Alhamdulillah pencerahan yang mendalam, semoga bisa selalu melaksanakannya. Aamiin
BalasHapus