Selasa, 22 September 2020

Neraca Perdagangan dan Pajak

Oleh: Abdul Hofir

Tampil sebagai Opini di harian Solopos tanggal 22 September 2020.

Isi tulisan:

Siaran pers Biro Hubungan Masyarakat Kementerian Perdagangan pada 16 September 2020 menjelaskan neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2020 mengalami surplus US$2,3 miliar.

Ini adalah surplus ketiga sepanjang tahun 2020 setelah surplus neraca perdagangan pada Juli tercatat sebesar US$3,2 miliar dan pada Februari sebesar US$2,5 miliar. Surplus neraca perdagangan tersebut merupakan selisih nilai ekspor sebesar US$13,1 miliar dan nilai impor sebesar US$10,7 miliar.

Selasa, 01 September 2020

Mengingat-Mu Nikmat Terindah


Malam ini buat 'ku gelisah
Hati yang mestinya tuma'ninah
Tapi terasa gundah
Adakah jiwaku tak lagi tajam terasah
Hingga diri mulia ini terasa sampah
Allah Rabb-ku, apakah ini musibah

Istighfar


Malam ini aku bersenandung
Tenangkan jiwaku nan murung
Bukan senandung yang buat hati linglung
Tapi alunan suara ayat Sang Khaliq yang layak disanjung

Naif


Kaukatakan Tuhan pengatur kehidupan
Tapi kaucampakkan Ia dalam segenggam kesombongan
Kaubilang kuasa Tuhan di atas segala alam
Tapi kau sembunyikan kuasa-Nya pada kegelapan jalan
Kau menyebut Dialah Tuhan tertinggi
Tapi dalam hatimu ada tuhan-tuhan lagi

Doa Terselubung


Lelap melenakan manusia
Dalam kematian sementara
Kedua tangan ini menengadah
Dengan jiwa dan rasa pasrah
Kususupkan doa-doa panjang
Merintih memelas

Mengapa Hatimu


Kala manusia sucikan dirinya
Dengan basuhan, usapan, dan air kesucian
Wajah menghadap kiblat
Khusyuk dalam kenikmatan shalat
Mulutmu kepulkan asap
Batang sigaret dan secangkir kopi pekat

Perjalanan Akhirat


Gelap - di sini bermula kematian
   Sulbi - di sini ada kematian
      Rahim - di sini pun ada kematian
         Dunia - di sini orang cari kematian
            Ilmu - di sini bermula kehidupan
               Cinta - di sini ada kematian

Pahlawan Tanpa Prasasti


Pada pundakmu yang terbungkuk lesu
Aku lihat kau panggul senjata seadanya
Pada rambutmu yang memutih bak kain belacu
Kulihat kau panglima nan berwibawa
Pada kulitmu yang mengendur layu
Aku melihat semangat mengharu biru, membara
Pada matamu yang pudar cahayanya, sayu
Aku melihat keteduhan juga lara

Rasa


Rasa itu seperti hembusan angin
Sejuk tapi senyap
Tak kentara tapi nyata
Beribu kata tak mampu menggambarkan rasa
Cukuplah aku dan Sang Pencipta Rasa yang tahu
Rasa tak ingin dipaksa
Rasa ingin bebas bagai angin
Rasa akan menyelinap
Rasa akan pergi
Dan akan datang lagi

Tutur Pak Kyai


Dulu, kau yang ajari aku kekuataan
Ketika maghrib t'lah menjelang
Anak-anak menimba air isi padasan

Dulu, kau yang ajari aku ketaatan
Ketika surau kumandangkan adzan
Sapaanmu ajak shalat ditegakkan

Fajar Biarkan Menyingsing


Dahulu...
Ibunda pernah bilang
Ketika fajar datang
Ia ambilkan kain selendang
Selimuti sang putra tersayang
Tiada rela dingin membalut badan, menusuk tulang
Ia anaknya meski bukan semata wayang
Namun hadirnya adalah harapan yang hilang
Bagi jiwa-jiwa berharap tenang

Korupsi Itu


Korupsi itu seperti gurita
Tentakelnya ke mana-mana
Tidak peduli makanan siapa
Merasa segalanya punya dia